detikcom
Minggu, 18/08/2013 16:45 WIB

As-Syafiiyah, Taman Al-Quran di Pulo Air Sukabumi

Aji Setiawan - detikRamadan
Jakarta - Pesantren Al-Qur’an KH Abdullah Syafi’ie As-Syafi’iyah, semula merupakan kawasan wisata Pulo Air, Sukalarang Kabupaten Sukabumi milik H Sukarno. Sekarang Taman pendidikan modern ini telah berkembang menjadi Taman Kanak-Kanak Islam sampai Sekolah Menengah Atas Islam (SMAI) dan Mahad Ali Pondok Pesantren Al Qur’an Sukabumi.

Pulo Air, sebuah nama yang semula amat dikenal oleh masyarakat luas sebagai sebuah tempat persinggahan dan Taman Rekreasi yang indah. Di tempat itu terdapat pemandangan hijaunya pegunungan yang lengkap dengan telaga dari Gunung Gede.

Tempat indah seluas 3,3 hektar ini adalah milik seorang pengusaha rumah makan terkenal, “Lembur Kuring” di bilangan Senayan Jakarta, beliau adalah H Soekarno.

Pada suatu waktu di tahun 1987, beliau mendengar ceramah agama tentang suasana dan keindahan surga, sebagai bentuk ganjaran kepada para hamba Allah yang beriman dan bertaqwa. Dalam ceramah itu, disebutkan tentang air sungai yang mengalir abadi dan berbagai keindahan pemandangan di dalam surga. Teringatlah beliau akan salah satu aset usahanya, berupa Taman Rekreasi Pulo Air di Sukabumi, yang memiliki aliran sungai yang senantiasa mengalir dan keindahan alam yang luar biasa, laksana surga di dunia.

Ceramah tersebut rupanya sangat membekas di hatinya, tak terbayangkan keindahan surga milik Allah yang begitu sempurna. Terlintas di benaknya untuk menyerahkan "surga dunia" miliknya itu kepada Allah dengan mewakafkannya untuk kepentingan agama dengan harapan Allah menggantinya dengan surga abadi di akhirat kelak.

Untuk memenuhi keinginannya tersebut, beliau menghubungi KH Abdul Rasyid Abdullah Syafi’ie, putra dari sahabatnya, KH Abdullah Syafi’ie, Pendiri Yayasan Perguruan Islam As Syafi’iyah yang telah lebih dulu wafat (1985). Disampaikanlah niat tersebut dan mengundang KH Abdul Rasyid AS untuk dapat melihat dan menyaksikan keindahan Taman Wisata Pulo Air miliknya.

"H Soekarno mengajak saya untuk pergi ke Sukabumi, mampir ke tempat usahanya, yakni Restoran Nikmat. Letak persisnya di Jalan Raya Cianjur –Sukabumi Kilometer 10 atau lebih tepatnya Kampung Pulo Air Kecamatan Sukalarang Kabupaten Sukabumi," kenang KH Abdul Rasyid Abdullah Syafi’i mengawali cerita tentang awal mula berdirinya Pondok Pesantren yang kini ia kelola.

Setelah menikmati pemandangan yang indah dan menu restoran yang yang nikmat. Kedua sahabat karib itu lalu mengelilingi area kolam ikan dan restoran yang luasnya kira-kira 3 Hektar. H Soekarno yang saat itu sedang sakit dan usianya telah menginjak kepala tujuh lalu menunjukan batas-batas tanah yang dimilikinya itu.

"Di sebuah balai-balai, ia mengajak berbincang-bincang sebentar. Kemudian ia menyerahkan (mewakafkan) seluruh bangunan beserta asetnya. Beliau bilang,’Tempat ini saya serahkan kepada Saudara, buatlah pesantren yang baik’," kata KH Abdul Rasyid menirukan H Soekarno, kala itu.

"Dengan niat bismillahirrohmannirrahim, seraya menyerahkan diri kepada Allah SWT, saya menerima tawaran H Soekarno." Ketika itu H Soekarno yang baru saja menjalani operasi jantung di Australia pun menangis.

"Ia terharu setelah mewakafkan tanahnya tersebut. Saat itu usianya sudah lanjut, 70-an," kata KH Abdul Rasyid. Memang tak berapa lama setelah peristiwa bersejarah itu, pengusaha restoran yang berasal dari Ciamis dan banyak tinggal di Sukabumi itu pun wafat.

KH Abdul Rasyid Abdullah Syafi’i setelah menerima amanah dari H Soekarno kemudian menyulap rumah makan itu menjadi taman Al-Al-Qur’an. Dengan bersungguh-sungguh mengemban amanah yang telah diterimanya itu. "Saya mondar-mandir Jakarta–Sukabumi selama satu tahun untuk mewujudkan pesantren," tutur KH Abdul Rasyid.

Perlahan, dengan niat mensyiarkan Islam agar lebih luas dan maju, KH Abdul Rasyid dalam waktu setahun, 1989-1990, sembilan lokal bangunan pesantren pun berhasil dibangun dan dinamakan Pesantren Al-Qur’an KH Abdullah Syafi’i.

"Semula pesantren ini diniatkan untuk anak-anak SD, yang pada awalnya masih berjumlah 17 anak," ujarnya.

Lambat laun, minat masyarakat untuk menitipkan anaknya ke Pesantren Al-Qur’an pun semakin besar. Mereka berbondong-bondong menitipkan anaknya pondok pesantren. Melalui kerja keras dan niat untuk memajukan pendidikan di bidang agama, kini luas pesantren itu telah berkembang menjadi 27 Hektar.

"Alhamdulillah di tanah seluas itu telah dibangun beberapa fasilitas pendidikan modern, mulai dari Taman Kanak-Kanak Islam (TKI) sampai Sekolah Menengah Atas Islam (SMAI) dan Mahad Ali Pondok Pesantren Al Qur’an Sukabumi," kata ayah tujuh anak dari buah perkawinannya dengan Hj Azizah binti Aziz ini dengan bersemangat.

Pesantren Al-Qur’an KH Abdullah Syafi’ie As-Syafi’iyah Pulo Air, Sukalarang Sukabumi kini berusia 21 tahun. Dan memasuki usia 21 tahun, sudah banyak yang dilakukan dalam pendidikan dan pengembangan santri mulai TK, SD dan SMA untuk menjadi generasi Qur’ani yang tafaqquh fiddin. Saat ini pesantren manampung sekitar 700 santri, yang berasal dari seluruh wilayah Tanah Air.

Program pendidikan Alquran itu meliputi pendidikan kurikuler Taman Kanak-kanak (TK Islam). Dalam mempersiapkan generasi yang Islami, dengan meletakkan prinsip-prinsip pendidikan dan agama secara benar ke arah pembentukan sikap, pengembangan pengetahuan dan keterampilan maka program TK mengacu pada Kurikuilum Departemen Pendidikan Nasional.

Secara umum anak masuk SD dan TK Islam As-Syafi’iyah sudah bisa membaca dan menulis, menghafal sebagian juz 30, bacaan salat, doa-doa, serta menghafal mufrodat bahasa Arab sampai 100 kata. Lepas dari tingkat TK dilanjutkan ke tingkat Sekolah Dasar, di pesantren ini tersedia SD Islam As-Syafi’iyah (Terakreditasi A+) yang sejak berdirinya sampai dengan sekarang, telah meluluskan 19 angkatan.

Para alumninya berhasil masuk ke SMP favorit di Jakarta dan kota besar lainnya. Sedangkan untuk NEM, sekolah ini mampu menjadi yang terbaik di wilayah I (dari 79 SD dalam 4 kecamatan).

Dari tingkat SD, santri dapat melanjutkan ke tingkat yang lebih tinggi, yakni Sekolah Menengah Tingkat Pertama Islam As-Syafi’iyah (Terakreditasi A+). Angkatan pertama dimulai Tahun Pelajaran 1993/1994.

SMP Islam As-Syafi’iyah telah dikembangkan sesuai dengan konsep terpadu, adanya Kelas Cerdas Istimewa dan Bakat Siswa (Akselerasi) bagi santri yang berprestasi, ditambah dengan tiga muatan lokal; Program Bahasa Arab dan Bahasa Inggris, Program Kepesantrenan / Takhassus, Tilawah serta Program Tahfidzul Qur’an. SMP Islam As-Syafi’iyah saat ini memiliki sekitar 236 siswa dengan berbagai prestasi yang telah dicapai diantaranya. Di antaranya, Siswa Teladan Tingkat Jawa Barat, NEM Terbaik SMP se-Kabaputen Sukabumi, Juara 1 Olimpiade Bahasa Indonesia Tingkat Propinsi Jawa Barat, Satu Regu Putri Peserta Jambore NAsional Pramuka di Batu Raden Jawa Tengah, Peringkat 1 Seleksi Pembinaan Matematika Kota Sukabumi, Juara 1 Seleksi IJSO Jawa Barat, Peserta IJSO ke-3 Nasional.

Lepas dari tingkat SMP, santri atau siswa dapat melanjutkan ke tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA) Islam As-Syafi'iyah. "Alhamdulillah SMA Islam As-Syafi’iyah akhirnya bisa terwujud. Pada Tahun Pelajaran 2008/2009 akan dibuka Kelas Akselerasi selama 2 tahun bagi santri yang berprestasi. Alumni SMA, sebagian besar melanjutkan ke UIN, selebihnya ke UI, IPB, UNDIP, UNS, Al Azhar (Mesir), Darul Mustofa (Hadromaut, Yaman), UNPAD dan Mahad Ali Pondok Pesantren Al Qur’an Sukabumi sendiri," kata KH Abdul Rasyid AS.

Lembaga pesantren dan Takhasus menyelenggarakan Paket Diniyah untuk SMP dan SMA. Materi Kepesantrenan menggunakan Kurikulum Khusus Ilmu Agama Islam, sedangkan santri berprestasi diarahkan pada Program Takhasshus, dengan kitab kuning menjadi materi kajian.

Sementara untuk kegiatan ko-kurikuler, para santri bisa memilih program Tahfidzul Qur’an dengan prestasi tertinggi hafal 30 juz, Pencak Silat dan Pengembangan bahasa asing. Untuk kegiatan ekstra kurikuler pesantren, para santri bisa mengikuti kegiatan Kepramukaan, Komputer, Olahraga, Kelompok Ilmiah Remaja, Muhadhoroh, Kaligrafi, PMR dan Tilawah.

Di pesantren ini juga tersedia Radio Dakwah Suara Pulo Air Sukabumi yang bisa didengar melalui frekuensi 89,5 FM sebagai media penyebar dakwah untuk wilayah Kabupaten Sukabumi dan sekitarnya.
Keberhasilan Ponpes Al Qur'an ini tidak lepas dari ketokohan sang pengasuh Pesantren yakni KH Abdul Rasyid Abdullah Syafi'i.

Sejak kecil hingga dewasa, KH Abdur Rasyid banyak belajar agama di pendidikan tinggi Islam As-Syafi’iyah milik sang ayahanda. Praktis, ia banyak dididik langsung oleh sang ayahanda, yang kemudian meninggalkan kesan yang sangat mendalam.

"Keikhlasannya dan semangatnya tinggi di dalam menegakkan kalimat Allah dan menyampaikan ilmu sebagai amanah dari Allah SWT. Almarhum juga sangat bersemangat mencanangkan umat untuk lebih mencintai Al-Quran sebagai mukjizat terbesar dari nabi kita Muhammad SAW," komentar KH Abdul Rasyid Abdullah Syafi’ie mengenai sosok sang ayah.

Selain berkiprah di Pondok Al-Quran Sukabumi, ia juga masih sempat mengelola Majelis Taklim Al-Barakah yang ada di Jalan Al-Barkah, Tebet, Jakarta Selatan. Pengajian di As-Syafi’iyah banyak menggunakan kitab kuning, termasuk kitab karangan Habib Abdullah Al-Haddad, yang banyak digunakan di kalangan habaib. Demikian juga pengajiannya selalu diisi dengan Maulid Barjanji.

Tapi ini tidak menyebabkannya menjauhkan diri dari kelompok lain. Dia sekarang menjadi ketua umum KISDI (Komite Internasional untuk Solidaritas Dunia Islam), yang anggotanya sejumlah organisasi Islam di Indonesia. Bahkan dia juga telah diangkat sebagai pembina Dewan Dakwah Islam Indonesia, yang didirikan oleh H Mohamad Natsir tahun 1970-an.

"Saya ini meneruskan kiprah almarhum ayah. Ayah saya berteman baik dengan tokoh-tokoh Masyumi, seperti Mohamad Natsir, Mohamad Roem, Prawoto, dan Syafrudin Prawiranegara," kata KH Abdul Rasyid, yang, meniru jejak ayahnya, tidak mau dipusingkan dengan masalah furu’iyah, perbedaan pendapat dalam masalah fikih. "Dalam situasi sekarang ini, ketika gempuran dan serangan dari musuh-musuh Islam makin besar, tidak ada jalan lain, umat Islam harus bersatu. Pegang teguh ukhuwah Islamiah," ujar adik kandung Hj Tuti Alawiyah ini, penuh harap.

Di samping bersatu, dia juga mengingatkan agar umat Islam tidak melupakan kewajiban untuk menuntut ilmu, seperti yang banyak dianjurkan Alquran dan hadis Nabi Muhammad SAW. Tanpa itu, jangan mimpi umat Islam akan bangkit.

Ditanya tentang kesan-kesannya terhadap generasi muda Islam, dia menyatakan, di satu pihak para pemuda-pemudinya bangkit, tapi di pihak lain kita prihatin, karena banyak di antara mereka yang terbius oleh arus kebudayaan asing. Hal ini bertambah gawat, karena pornografi, pornoaksi, mistik, dan takhayul ditayangkan secara luas oleh media.

Dari tujuh anaknya, enam orang sudah menikah. "Saya libatkan mereka, baik di pengajian majelis taklim, pesantren di Pulo Air, maupun di tiga siaran radio yang dikelola Asyafi’iyah," lanjutnya.

( sip / sip )


Komentar (0 Komentar)

     atau daftar untuk mengirim komentar
    Tampilkan Komentar di:        

    Twitter Recommendation
    Redaksi: ramdhan[at]detik.com
    Informasi pemasangan iklan
    Hubungi sales[at]detik.com

    Kirim Pertanyaan + Indeks
    MustRead close