detikcom
Jumat, 09/08/2013 14:02 WIB

Kompetensi Takwa Setelah Puasa Ramadan

Dr Muhammad Iqbal - detikRamadan
Jakarta - Pada hari kemarin dan hari ini semua Umat Islam di seluruh dunia merayakan hari kemenangan, setelah sebulan penuh menjalankan Ibadah puasa. Hari Raya Idul Fitri merupakan hari kemenangan bagi Umat Islam, khususnya yang menjalankan ibadah puasa. Pada hari ini saya mendapatkan fenomena yang jarang dijumpai pada bulan Ramadan.

Pertama adalah ketika selesai salat Idul Fitri saya mendapati dua buah mobil bersenggolan di jalan dekat rumah saya, kedua supir ngotot dan saling marah, sehingga menimbulkan kemacetan, saling ngotot dan bersitegang antara keduanya, tentunya saja dengan emosi yang meluap-luap.

Kedua adalah ketika hendak salat Ashar di mushala di dekat rumah, tidak seorang pun hadir melaksanakan salat berjamaah, padahal di sekililing mushala saya dapati para muslimin saling berkunjung dan bersilaturahmi. Kedua fenomena ini membuat saya bertanya apa hasil ibadah dan tempaan pada bulan Ramadan? Kenapa setelah Ramadan berlalu banyak masyarakat kembali kepada kebiasaan awalnya dan melupakan pendidikan yang didapat pada bulan Ramadan, padahal kedua fenomena kejadian yang saya ceritakan tadi jarang sekali dijumpai pada bulan Ramadan.

Rasa marah dan kebencian biasa diredam, masjid selalu ramai diisi oleh jamaah dalam melaksanakan salat 5 waktu, namun kenapa baru saja 1 hari Ramadan berlalu banyak Umat Islam yang kembali kepada kebiasaan hidupnya ?

Fenomena ini pernah diperingatkan oleh Nabi Muhammad Saw dalam hadist :

"Banyak orang yang puasa, mereka tidak mendapatkan apa-apa melainkan hanya rasa lapar dan haus." (HR Bukhari)

Padahal tujuan akhir puasa sebagaimana perintah Allah Swt dalam Alquran Al-Baqarah ayat 183 yang berbunyi :

"Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan kepada kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan kepada orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa." (QS al-Baqarah: 183)

Apa yang dimaksud dengan Taqwa? Dalam Wikipedia dijelaskan, taqwa/takwa dalam bahasa Arab berarti memelihara diri dari siksaan Allah dengan mengikuti segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya; tidak cukup diartikan dengan takut saja. Adapun arti lain dari taqwa adalah:

1. Melaksanakan segala perintah Allah
2. Menjauhkan diri dari segala yang dilarang Allah (haram)
3. Ridho (menerima dan ikhlas) dengan hukum-hukum dan ketentuan Allah

Taqwa berasal dari kata waqa-yaqi-wiqayah yang artinya memelihara, "memelihara diri dalam menjalani hidup sesuai tuntunan/petunjuk Allah." Adapun dari asal bahasa arab quraish, taqwa lebih dekat dengan kata 'waqa'. 'Waqa' bermakna melindungi sesuatu, memelihara dan melindunginya dari berbagai hal yang membahayakan dan merugikan. Itulah maka, ketika seekor kuda melakukan langkahnya dengan sangat hati-hati, baik karena tidak adanya tapal kuda, atau karena adanya luka-luka atau adanya rasa sakit atau tanahnya yang sangat kasar, orang-orang Arab biasa mengatakan 'Waqal Farso Minul Hafa (Taj)'.

Dari kata 'waqa' ini taqwa bisa diartikan berusaha memelihara dari ketentuan Allah dan melindungi diri dari dosa/larangan Allah. Bisa juga diartikan berhati-hati dalam menjalani hidup sesuai petunjuk Allah.

Jadi jelas bahwa kompetensi akhir yang diharapkan oleh Allah Swt dalam pelaksanaan ritual puasa pada bulan Ramadan adalah menjadi orang yang bertaqwa. Menurut hemat penulis ada beberapa kompetensi yang bisa didapat selama pelaksanaan ibadah puasa pada bulan Ramadan agar mencapai derajat taqwa, sebagai berikut :

1. Puasa Melatih Kejujuran, kejujuran merupakan sesuatu yang sangat langka ditemui saat ini, kasus-kasus korupsi merupakan bukti bahwa kejujuran itu sesuatu yang sangat susah untuk dilaksanakan, dengan berpuasa kita dilatih jujur, mungkin tidak ada orang yang tahu kalau kita berbuat curang selama berpuasa, misalnya makan dan minum diam-diam, namun puasa mengajarkan kita untuk senantiasa jujur, karena jujur merupakan salah satu sifat yang dimiliki oleh Nabi Muhammad Saw, sehingga beliau diberi gelar Al-Amin artinya orang yang terpercaya, diharapkan setelah kita menjalankan ibadah puasa, kita menjadi Al-Amin.

2. Puasa Melatih Kepedulian Sosial, dengan melaksanakan ibadah puasa selama satu bulan penuh, maka diharapkan kita untuk lebih perduli kepada orang miskin, selama berpuasa kita merasakan bagaimana rasanya tidak makan dan minum selama kurang lebih 12 jam lamanya, kalau kita mau merenungkan, betapa beratnya para kaum dhuafa yang setiap hari serba kekurangan makanan, dengan berpuasa kita menjadi memahami dan bila kita memiliki kelebihan rezeki maka kita akan membantu saudara-saudara kita yang kekurangan.

3. Puasa Melatih Menahan Hawa Nafsu, selama berpuasa kita diwajibkan untuk menahan hawa nafsu, bukan hanya pada makan dan minum, namun juga menahan emosi seperti marah, demikian juga dengan hawa nafsu seksual, kita diwajibkan menahan hawa nafsu karena dapat mengurangi pahala dan bahkan membatalkan puasa. Dengan melatih hawa nafsu maka kompetensi yang bisa kita peroleh dalam latihan ini adalah kita menjadi pribadi yang mudah mengendalikan diri, sabar dan mampu mengendalikan emosi khususnya marah. Kompetensi ini sangat penting karena banyak kasus melatih kesabaran adalah hal paling sulit, karena perlu waktu dan proses, demikian juga dengan pengendalian nafsu seksual, bagi para penzina ini adalah kesempatan untuk bertaubat dan melatih mengendalikan nafsu seksualnya, mulai dari zina mata, zina pikiran dan bahkan zina kemaluan.

4. Displin dalam salat, salat berjamaah Mesjid merupakan sebuah keharusan, khususnya bagi kaum laki-laki, selama bulan Ramadan, Shalat berjamaah menjadi rutinitas yang penting, selama shalat berjamaah diisi dengan pengajian dan zikir bersama, khususnya pada waktu Subuh dan Isya. Masjid-masjid ramai dikunjungi jamaah, selain itu rutin dilakukan shalat sunat tarawih, qiyamulail, dhuha. Salat tepat waktu dan berjamaah ke Masjid merupakan kompetensi yang penting bagi mencapai derajat Taqwa, dengan melakasanakan shalat berjamaah di Masjid makan kita akan senantasa displin dalam menjaga waktu dengan demikian maka masjid akan makmur dan syiar Islam semakin berkembang.

5. Membaca Alquran, pada bulan Ramadan umat Islam berlomba-lomba mendapatkan pahala dengan cara mengkhatamkan Alquran, selain pahala yang berlipat ganda, juga kesempatan waktu yang luas, berbeda dengan hari-hari biasa dimana Manusia selalu merasakan memiliki waktu yang terbatasa dalam membaca Alquran, untuk itu kompetensi mampu membaca da mempelajari Alquran harus terus dipelihara, diharapkan dengan senantiasa membaca Alquran maka Umat Islam dalam senantiasa menjadikan Alquran sebagaim pedoman hidup dan mengamalkan isu kandungan Alquran. Setiap langkah, kebijakan dan pandangan hidup tidak lepas dari pedoman Alquran sebagai kita suci yang diyakini kebenarannya. Wallahu’alam



*Ketua Program Studi Psikologi Universitas Mercu Buana Jakarta


( rmd / rmd )


Komentar (0 Komentar)

     atau daftar untuk mengirim komentar
    Tampilkan Komentar di:        

    Twitter Recommendation
    Redaksi: ramdhan[at]detik.com
    Informasi pemasangan iklan
    Hubungi sales[at]detik.com

    berita
    terbaru
    Kirim Pertanyaan + Indeks
    MustRead close