demikian jargon yang digagas oleh KH Drs Muchtar Adam selaku pendiri dan pimpinan pesantren di Bandung ini. Artinya, "Dakwah harus bisa dimengerti dan juga dirasakan". "> detikRamadan 2013 - Pesantren Alquran Babussalam Bandung, <i>Dakwah Kedah Kahartos Karaos</i>
detikcom
Rabu, 10/07/2013 10:55 WIB

Pesantren Alquran Babussalam Bandung, Dakwah Kedah Kahartos Karaos

Muchtar - detikRamadan
(Foto: Istimewa)
Jakarta - "Dakwah kedah kahartos jeung Karaos", demikian jargon yang digagas oleh KH Drs Muchtar Adam selaku pendiri dan pimpinan pesantren. Artinya, "Dakwah harus bisa dimengerti dan juga dirasakan". Tentu saja hal itu berasal dari perenungan tentang dakwah Islam yang lebih menekankan pada aspek pengetahuan ketimbang aksi.

Dengan jargonnya itu, KH Muchtar Adam bercita-cita bahwa aksi dakwah sesuai dengan konsep dakwah. Menurutnya, dakwah Islam memang bisa mudah dimengerti tapi tak bisa dirasakan. Misalnya saja dalam sebuah musibah, para ustaz akan mengimbau agar ummat bersabar, bersabar, dan bersabar. Sementara para pendeta kristen sangat giat menebar kebaikan tanpa harus banyak berbicara. Inilah yang dimaksud bahwa dakwah harus dimengerti dan dirasakan.

Oleh karena itu, sejak berdiri 32 tahun lalu, Pesantren Al Quran Babussalam Bandung telah berkiprah dalam meningkatkan kesejahteraan umat. Dimulai tahun 1980 di Desa Ciburial Kecamantan Cimenyan, Kabupaten Bandung, pesantren ini giat mengajak umat untuk terus belajar. Sebuah sekolah tsanawiyah didirikan. Menyusul kemudian aliyah dan ibtidaiyah.

Pesantren yang terletak di utara kota Bandung ini menggalang dana untuk membangun masjid-masjid di beberapa kampung binaan. Dengan demikian berdirilah masjid-masjid di kampung.

Ada juga program hibah rumah yang diberikan kepada penduduk yang tidak memiliki rumah layak huni. Hingga saat ini ada 5 rumah yang sudah dihibahkan kepada masyarakat di sekitar pesantren. Jumlah tersebut diharap bertambah karena masih banyak masyarakat yang tidak memiliki rumah yang layak.

Dari segi pendidikan, sesuai namanya, pesantren ini menekankan pada pemahaman dan hapalan Alquran. Buku tafsir yang sering dijadikan rujukan adalah tafsir 'Tanwir Al Miqbas min Tafsir Ibn Abbas'.

Selain itu salah satu ciri khas pesantren ini adalah pengajaran yang menekankan kepada ukhuwah Islamiyah.

Sedangkan untuk menyikapi problema ikhtilaf (perbedaan atau perselisihan), KH Muchtar Adam mengajarkan fiqih perbandingan. Dengan pengajaran fiqih perbandingan, para santri diharapkan mampu mengelola perbedaan secara arif dan menjadikannya sebagai bagian dari keindahan Islam.

Pada tiap bulan Ramadan, ada program yang harus diikuti santri yang diberi nama Muballigh Hijrah. Santri-santri yang dianggap telah mampu mengelola sebuah masjid akan dikirim ke daerah-daerah binaan dan selama sebulan akan menjadi pengelola dan memakmurkan masjid binaan.

Program ini diharapkan memberikan gambaran riil tentang masyarakat yang akan dihadapinya nanti. Hal inipun diharapkan memberikan motivasi kepada para siswa untuk selalu giat menambah ilmunya.


Jika anda memiliki informasi menarik ataupun kegiatan seputar pesantren yang dapat dibagi dengan kami dan pembaca lainnya, silakan kirim ke ramdhan@detik.com. Jangan lupa sertakan foto dan nomor kontak.

( sip / rmd )


Komentar (0 Komentar)

     atau daftar untuk mengirim komentar
    Tampilkan Komentar di:        

    Twitter Recommendation
    Redaksi: ramdhan[at]detik.com
    Informasi pemasangan iklan
    Hubungi sales[at]detik.com

    Kirim Pertanyaan + Indeks
    MustRead close