detikcom
Jumat, 05/07/2013 15:46 WIB

Penderita Diabetes Bisa Terserang Hipoglikemia Jika Nekat Berpuasa

Reynita Carlina - detikRamadan
Ilustrasi
Surabaya - Penderita Diabetes Melitus (DM) memang didapuk untuk mempunyai pola makan yang sehat dan jenis makanan tertentu yang tidak menimbulkan kambuhnya penyakit. Menjelang bulan Ramadan nanti, mereka juga tentu akan mengalami kebimbangan tentang keputusan untuk ikut berpuasa atau tidak.

Menjalankan ibadah puasa, penderita DM dihadapkan pada perubahan jadwal maupun pola makan serta perubahan aktifitas jasmani. Sehingga menyebabkan glukosa darah menjadi tidak terkendali. Hal ini juga menjadi pemicu timbulnya resiko dehidrasi, hipoglikemia maupun hiperglikemia.

Hipoglikemia merupakan keadaan di mana kadar glukosa dalam darah turun sangat drastis. Ini disebabkan karena asupan makanan penderita DM yang kurang memadai. Penderita DM tidak bisa menyepelekan keputusannya untuk ikut berpuasa atau tidak. Perlu pertimbangan matang mengingat kondisi mereka yang kerap membutuhkan asupan glukosa yang tepat.

Resiko terjadinya Hipoglikemia pada penderita DM cenderung lebih tinggi pada saat bulan puasa. Sehingga hal ini tentunya perlu mendapat perhatian khusus dari ahli medik yang menangani mereka.

"Hipoglikemia merupakan hal yang menjadi perhatian karena risiko terjadinya hipoglikemia pada saat bulan puasa adalah 7,5 kali terutama pada saat 15 hari pertama dan risiko dirawat di RS akibat keadaan ini meningkat sebanyak 5 kali," ujar Ketua Perkumpulan Endokrinologi Indonesia, Prof DR Dr Achmad Rudijanto, Sp.PD-KEMD saat melaunching Buku Panduan Tatalakasana Diabetes Selama Menjalankan Ibadah Puasa di JW Marriott Surabaya, Jumat (5/7/2013).

"Diperkirakan hipoglikemia merupakan penyebab kematian pada 2-4% pasien DM tipe 1. Walaupun kontribusi hipoglikemia sebagai penyebab kematian pada DM tipe 2 masih belum jelas. Angka kejadian hipoglikemia pada pasien DM tipe 2 beberapa kali lipat lebih rendah dibandingkan DM tipe 1," imbuh Rudi.

Menurutnya, Gejala Hiploglikemia umumnya meliputi tubuh gemetar, keringat dingin, wajah pucat, pusing dan mual. Jika tidak segera ditangani dengan baik dikhawatirkan penderita akan mengalami koma diabetik atau hilangnya kesadaran beberapa saat.

Hasil studi EPIDIAR menunjukkan bahwa pada puasa Ramadan dapat meningkatkan risiko hipoglikemi berat sehingga membutuhkan perawatan di rumah sakit. Hipoglikemi di bulan Ramadan meningkat 4,7 kali lipat pada pasien DM tipe 1 (3-14 kejadian/100 individu/1 bulan) dan 7,5 kali lebih sering (0,4-3 kejadian/100 individu/1 bulan) pada pasien DM tipe 2.

Angka kejadian tersebut dianggap terlalu rendah karena belum menghitung kejadian hipoglikemi yang tidak memerlukan perawatan di rumah sakit, tetapi memerlukan bantuan pihak ketiga. Risiko hipoglikemi yang berat dikaitkan dengan penggunakaan insulin atau sulfonilurea dan glinid, perubahan dosis obat, dan perubahan gaya hidup yang terlalu drastis.

( rmd / rmd )



Twitter Recommendation
Redaksi: ramdhan[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi sales[at]detik.com

Kirim Pertanyaan + Indeks
MustRead close