detikcom
Senin, 06/08/2012 08:15 WIB

Intisari Kandungan Surah Al Qalam Ayat 8-16

alifmagz - detikRamadan
Jakarta - Ayat-ayat yang lalu mengukuhkan pernyataan ayat-ayat sebelumnya yang menegaskan keluhuran budi pekerti Nabi Muhammad saw, serta keberadaan beliau dalam bimbingan dan petunjuk Allah swt. Karena itu, ayat-ayat berikut menegaskan konsekuensi hal di atas dengan menyatakan: “Jika demikian itu sifat dan keadaanmu, wahai Nabi Muhammad saw, maka janganlah engkau mengikuti para pengingkar ayat-ayat Allah swt. [8].

Mereka sangat menginginkan atau mereka berangan-angan jika seandainya engkau bersikap lunak terhadap mereka, yakni tidak melarang mereka menyembah berhala atau engkau merestui sebagian dari kedurhakaan mereka, lalu mereka dengan sikap lunakmu itu bersikap lunak (pula) kepadamu [9].

Untuk lebih mengukuhkan larangan tersebut, Allah swt menyifati mereka dengan sifat-sifat buruk sambil mengulangi larangan-Nya dengan berfirman: Dan janganlah engkau ikuti setiap penyumpah, yakni yang sedikit-sedikit selalu bersumpah, lagi berkepribadian hina, yakni tidak berbudi pekerti luhur [10],

Pencela, yakni banyak mencela pihak lain di belakang mereka, Penyebar/Penghambur fitnah guna memecah belah anggota masyarakat [11], lagi sangat gemar menghalangi terciptanya kebaikan, atau sangat kikir, juga pelampau batas lagi pendurhaka, yakni banyak dosa terhadap Allah swt dan sesama manusia [12] dan kasar. Selain itu, yakni yang lebih buruk lagi adalah ia populer/dengan kejahatannya [13].

Sifat-sifat yang disandangnya itu, menurut ayat 14, lahir karena dia adalah seorang yang dikenal serta merasa diri sebagai pemilik banyak harta dan anak-anak yang banyak lagi terpandang oleh masyaakatnya [14].

Apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Allah swt, ia berkata: “Ini adalah dongeng-dongengan orang-orang
dahulu kala” [15]. Sungguh bejat orang ini. Karena itu, ayat 16 memvonisnya bahwa Kami/Allah swt akan menandainya di atas belalainya, yakni hidungnya yang panjang [16].

Intisari Kandungan Surah Al Qalam Ayat 17-33

Ayat-ayat berikut mengingatkan para pendurhaka penduduk Mekkah tentang ujian Allah swt serupa dengan ujian yang dialami oleh pemilik kebun di Yaman, yang kisahnya diuraikan oleh ayat-ayat berikut. Mereka adalah sekelompok pemilik, yakni dua dari tiga orang di antara mereka bersumpah bahwa mereka akan memetik hasil kebunnya di pagi hari, yakni agar fakir miskin tidak melihatnya sekaligus tidak dapat meminta/ mengambilnya [17].

Dalam saat yang sama, mereka juga tidak mengaitkan tekad mereka itu dengan kehendak Allah swt. Mereka tidak berucap: Insya Allah swt, atau kalimat apa pun yang menunjuk keterikatan upaya mereka dengan kehendak Allah [18], maka akibatnya, kebun mereka ditimpa oleh bencana besar yang bersumber dari Allah swt. Bencana itu datang ketika mereka sedang tidur lelap [19].

Akibat bencana itu kebun mereka menjadi seperti abu yang hitam atau pohon yang telah gundul setelah dipetik semua buahnya [20].

Di pagi harinya, sebelum mereka mengetahui apa yang terjadi pada kebun mereka, mereka saling panggil-memanggil [21] agar segera berangkat ke kebun mereka untuk memetiknya [22].

Mereka pun berangkat seraya saling berbisik-bisik dan pesan memesan [23], bahwa: “Jangan biarkan seorang miskin pun memasuki kebun itu” [24]. Demikian mereka berangkat dengan tekad menghalangi orang-orang miskin, padahal mereka mampu menolong orang-orang miskin itu. Dengan kata lain, mereka berangkat dengan niat buruk dan mengira bahwa mereka akan mampu melaksanakan tekad mereka [25].

Tetapi tatkala mereka melihat keadaan kebun mereka jauh berbeda dengan apa yang mereka harapkan, yakni setelah kebun itu ditimpa bencana mereka berkata: “Sungguh kita sesat jalan.” Yakni “Ini bukan arah kebun kita” [26].

Tetapi setelah mereka yakin bahwa memang itu kebun mereka, hanya keadaannya telah berubah akibat bencana yang menimpanya, mereka semua mengakui bahwa: “Kita tidak sesat jalan, bahkan kita dihalangi dari perolehan hasilnya” [27].

Ketika itu juga berkatalah yang di tengah, yakni yang paling moderat dan baik pikirannya di antara mereka: “Bukankah aku telah mengatakan kepada kamu, bahwa rencana kamu itu tidaklah terpuji dan bahwa hendaklah atau mengapa kamu tidak bertasbih menyucikan Allah dan berucap Insya Allah?! [28].

Para pemilik kebun tersebut sadar, karena itu mereka berucap: “Mahasuci Tuhan Pemelihara kita, sesungguhnya kita dengan rencana buruk kita adalah orang-orang zalim yang mantap kezalimannya.” Mestinya kita bersyukur dengan hasil panen sambil memberi hak fakir miskin, tetapi justru kita melakukan sebaliknya [29].

Setelah mereka menyadari dampak buruk sikap mereka, maka sebagian mereka menghadapi sebagian yang lain seraya cela mencela [30].

Yakni ada yang berkata: “Ini karena saranmu”; yang lain berkata: “Engkau yang mendorong kami”; yang lain lagi berkata: “Memang aku telah menyampaikan”, dan sebagainya dan akhirnya mereka semua mengaku bersalah dan berkata: “Aduhai celakalah kita, sungguh kita adalah orang-orang yang melampaui batas,” yakni dengan bersumpah tidak akan memberi hasil panen kita kepada fakir miskin [31].

“Semoga Tuhan Pemelihara kita memberi kita ganti dengan kebun atau apa saja yang lebih baik daripada dari kebun yang binasa itu; sesungguhnya kita hanya kepada Tuhan Pemelihara dan Pembimbing kita selalu mengharap ampunan dan karunia-Nya [32].

Demikian kisah Pemilik Kebun yang diakhiri dengan pernyataan Allah swt. memperingatkan semua pihak, termasuk kaum musyrik Mekkah bahwa: Seperti itulah siksa duniawi dan sesungguhnya azab akhirat bagi para pembangkang lebih besar daripada siksa duniawi itu. Yakni, dia lebih besar karena siksa akhirat bersumber langsung dari Allah swt., serta tidak berakhir dengan kematian. Jika mereka, siapa pun yang kafir dan durhaka, mengetahui pastilah mereka itu sadar dan patuh kepada Allah swt. dan Rasul [33].

( rmd / rmd )


Komentar (0 Komentar)

     atau daftar untuk mengirim komentar
    Tampilkan Komentar di:        

    Twitter Recommendation
    Redaksi: ramdhan[at]detik.com
    Informasi pemasangan iklan
    Hubungi sales[at]detik.com

    berita
    terbaru
    Kirim Pertanyaan + Indeks
    MustRead close