detikcom
Minggu, 05/08/2012 07:50 WIB

Nuzulul Qur'an: Hidup Mulia dengan Alquran

Fahmi Salim MA - detikRamadan
Halaman 1 dari 4
Jakarta - "Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Quran) pada malam kemuliaan, dan tahukah kamu Apakah malam kemuliaan itu? malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. pada malam itu turun malaikat-malaikat dan Malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. malam itu (penuh) Kesejahteraan sampai terbit fajar." (QS Al-Qadr: 1-5)

Kitab suci umat Islam yang merupakan wahyu terakhir diturunkan kepada Rasul Allah terakhir disebut dengan Alquran. Kata ini memiliki 2 arti, yaitu bacaan (qira’atan wa qur’anan) dan mengumpulkan atau kompilasi (jam’an). Ia dinamai demikian karena Alquran adalah bacaan mulia yang menghimpun dan mengkompilasi intisari semua kitab atau wahyu Allah yang sebelumnya telah diwahyukan kepada para nabi. Lebih dari itu, ia juga menghimpun seluruh ilmu pengetahuan yang dibutuhkan manusia. Hal itu disebabkan karena ia adalah firman Allah yang ilmu-Nya mencakup segala hal yang berkaitan dengan manusia, dan bahkan di luar jangkauan manusia, karena ia adalah Sang Pencipta alam semesta.

Alquran menjelaskan bahwa ia awal mula turun pada bulan Ramadan, dan berfungsi menjadi petunjuk bagi manusia (Al-Baqarah: 185). Malam turunnya adalah malam kemuliaan (Al-Qadr:1) yang penuh keberkahan (Ad-Dukhan: 3). Ia adalah bacaan yang agung (Qaf: 1), lagi mulia (Shad: 1), berbahasa arab yang jelas dan terang (Fusshilat: 3), mudah diingat dan dipelajari oleh siapa pun yang hatinya bersih (Al-Qamar: 17), serta banyak berisi petunjuk bagi manusia namun direspon negatif (kekufuran) oleh banyak orang (Al-Isra’: 89).

Allah mengabarkan bahwa orang-orang kafir tidak suka mendengar Alquran dikarenakan ada tabir yang tebal di hati mereka yang menghalangi, sehingga mereka lari dari hidayahnya.

"Dan apabila kamu membaca Alquran niscaya Kami adakan antara kamu dan orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat, suatu dinding yang tertutup, dan Kami adakan tutupan di atas hati mereka dan sumbatan di telinga mereka, agar mereka tidak dapat memahaminya. Dan apabila kamu menyebut Tuhanmu saja dalam Alquran, niscaya mereka berpaling ke belakang karena bencinya," (Al-Isra’: 45-46)

Sehingga untuk membacanya dengan baik, kita dianjurkan untuk melakukan persiapan khusus dengan hati yang bersih dan memohon perlindungan kepada-Nya dari godaan setan (An-Nahl: 98). Ketika tidak membacanya pun, kita harus menyimaknya dengan melibatkan seluruh perasaan, indera dan alat pemahaman sehingga terjadi interaksi, tadabbur, dan pengaruh yang nyata dalam keseharian.

"Dan apabila dibacakan Alquran, Maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat" (Al-A’raf: 204)Next

Halaman 1 2 3 4


( rmd / rmd )



Twitter Recommendation
Redaksi: ramdhan[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi sales[at]detik.com

berita
terbaru
Kirim Pertanyaan + Indeks