detikcom
M. Aji Surya
Diplomat RI di Moskow, Rusia
 
Selasa, 31/07/2012 06:37 WIB

Hidup di Soviet Kering Tanpa Fitrah

M Aji Surya - detikRamadan
Jakarta - "Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah pada) fitrah/agama Allah yang telah menciptakan manusia. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui." (QS Ar-Rum: 30).

Wartawan adalah mahluk yang serba ingin tahu. Manakala sifat itu menempel di seorang Adam Malik yang dikenal cerdas, tahu sendiri kan apa hasilnya. Dan pada tahun 1952, pria necis itu telah melakukan kunjungan jurnalistiknya ke negeri tanpa agama, Uni Soviet. Kesimpulannya: pembangunan Soviet oke banget, namun tetap saja menakutkan.

Keingintahuan Adam Malik membawanya kepada penjelajahan sosial kemasyarakatan baik siang maupun malam. Ia terus keluyuran ke berbagai tempat untuk melihat sendiri dan berbicara dengan masyarakat di Moskow dan kota lain yang dikunjungi. Menonton balet, bioskop hingga berkunjung ke beberapa pabrik. Banyak hal yang tidak pernah terbanyangkan sebelumnya tiba-tiba ditemui.

Di mata Adam Malik, pembangunan di Moskow tampak menggeliat. Gedung-gedung pencakar langit tampak menjulang dan banyak tanah sedang diratakan untuk dibuat apartemen bertingkat 10-20 bagi warga. Salah satu gedung yang dianggap paling top markotop adalah Universitet Lenin yang sekarang dikenal sebagai MGU atau Universitas Negeri Moskow yang terletak di puncak bukit tertinggi kota Moskow (Bukit Lenin). Gedung yang dikatakan raksasa itu sedang melebarkan sayapnya dengan membangun stadion olahraga, laboratorium dan observatorium. Gedung olah raga dimaksud kemudian dinamakan GOR Lusniky yang kembarannya dibuat di Jakarta dan dikenal saat ini dengan Gelora Bung Karno.

Metro bawah tanah di Moskow juga sangat elok dan membuatnya tercengang. Terdapat 5 lini dan empat di antaranya bertemu satu dengan lainnya di lingkungan ring Moskow. Menuju metro, pengunjung harus turun dengan eskalator modern hingga 40 meter lalu akan menemukan sebuah stasiun bernuansa galeri dengan hiasan lampu kristal dan patung-patung marmer. Jangan lupa, itu semua terjadi 7 tahun setelah Indonesia merdeka lho.

Di antara kenyataan penting yang dicatat adalah nasionalisme masyarakat Rusia yang demikian kuat. Mereka tergolong orang yang ulet dan pantang menyerah serta dinilai tidak suka membeberkan boroknya kepada orang lain. Rupanya semangat 'right or wrong is my country' yang berasal dari Inggris, juga berlaku di negari beruang merah. Inilah sebuah komponen yang membuat mereka disegani oleh bangsa-bangsa lain di dunia. Itu juga mengapa Adam Malik tidak suka mengatakan Uni Soviet sebagai negeri dibalik tabir besi, namun menyebutnya sebagai negeri berkemauan besi.

Barangkali yang unik adalah pertemuan tidak terencana antara Adam Malik dengan tokoh PKI, Semaun. Selama konferensi itu, Semaun yang saat itu sebagai orang buangan Pemerintah Belanda dan menetap di Moskow sejak tahun 1926 telah beristrikan orang setempat dan beranak pinak. Ia dikenal sebagai orang yang sangat ramah, hangat dan sangat mencintai Indonesia. Pada saat kemerdekaan Indonesia dikumandangkan di berbagai media misalnya, Semaun menulis surat kepada Stalin agar medukung kemerdekaan Indonesia. Sebagai responnya, sejak saat itu Pemerintah Soviet membuka siaran Indonesia pada Radio Moskow yang dipimpin oleh Semaun.

Tidak hanya itu, orang-orang buangan seperti Semaun dan Muso itulah yang kabarnya terus melakukan pendekatan kepada pemerintah Komunis Uni Soviet untuk membuka juga jurusan Indonesia di berbagai universitas. Tidak mengherankan, kalau hingga saat ini terdapat 5 universitas terkemuka di Moskow, St. Petersburg dan Vladivostok yang terus mengajarkan bahasa dan sastra Indonesia. Di luar aneka kontroversi yang muncul, rupanya jasa mereka bagi Indonesia ternyata tidak sedikit.

Terlepas dari berbagai kekaguman dan hal-hal baru yang ditemui selama sebulan di negara di balik terali besi itu, Adam Malik teryata merasakan lepasnya beban dan munculnya perasaan lega saat lepas landas meninggalkan kota Moskow. Itu semua karena menurutnya, Uni Soviet tetaplah negara yang tertutup dan membatasi gerak geriknya sebagai seorang tamu. Bahkan dalam batas-batas tertentu, orang-orang Rusia yang ditemuinya saat itu terlihat sangat curiga terhadap orang asing, tidak mudah percaya, banyak tutup mulut serta terkesan menganggap remeh bangsa lain.

Bagi Adam Malik, kebebasan adalah sesuatu yang tidak bisa dinilai. Tanpa kebebasan, profesinya sebagai wartawan tidak dapat dijalankan dengan baik. Dan, sebagai orang yang percaya kepada Tuhan, ia membutuhkan ruang dan waktu untuk bercinta dengan sang Khalik tanpa batas. Itu pula, ketika meninggalkan Moskow, ia marasa fitrahnya seolah direngkuh kembali.


*Penulis adalah alumnus Fakultas Hukum UII dan UGM Yogyakarta, ajimoscovic@gmail.com

( rmd / rmd )


Komentar (0 Komentar)

     atau daftar untuk mengirim komentar
    Tampilkan Komentar di:        

    Twitter Recommendation
    Redaksi: ramdhan[at]detik.com
    Informasi pemasangan iklan
    Hubungi sales[at]detik.com

    berita
    terbaru
    Kirim Pertanyaan + Indeks
    MustRead close