detikcom
Sabtu, 28/07/2012 16:47 WIB

PPI Yaman : Jelajahi Situs Peradaban Islam di Hadhramaut (II)

Dzul Fahmi - detikRamadan
Jakarta - Lokasi rihlah ilmiah kedua, yaitu Istana al-Katiri, Istana Kerajaan Seiyun. Perjalanan menuju Kota Seiyun membutuhkan waktu kurang lebih satu jam. Menjelang bulan suci Ramadan mengakibatkan jalanan macet, sehingga dengan sangat 'terpaksa', para rombongan harus menyisir jalan menuju lokasi dengan berjalan kaki.

Kota Seiyun merupakan salah satu kota bersejarah di Negeri Yaman. Ia merupakan daerah lembah terbesar di Hadhramaut, terletak di sebelah barat, kira-kira 12 mil dari Kota Shibam, dan 22 mil sebelah timur dari Kota Tarim. Sebuah informasi tertulis dari batu prasasti menyebutkan, bahwa kota tempat kelahiran Habib Ali Muhammad bin Husein al-Habsyi, pengarang Mawlid Sim'u al-Durar ini telah ada sejak abad ke-4 M dan merupakan kota yang memiliki perekonomian kuat dengan kebun anggur yang luas.

Meskipun kenyataannya, Kota Seiyun sekarang tampak gersang. Keberadaan Istana (Qa'r Castle) Kerajaan di pusat Kota Seiyun, merupakan bukti tak terbantahkan bahwa kota ini pernah menjadi pusat pemerintahan di zaman dahulu. Bahkan, jika berbincang Seiyun sebagai pusat pemerintahan, sejarah Qa'r tentunya tak boleh untuk terlewat.

Istana tanah setinggi 34 meter dan seluas 5.460 meter persegi tersebut, selain dikenal dengan sebutan Istana al-Katiri -nama dinasti yang berkuasa paling lama-, ia juga dikenal dengan nama Qa'r al-Dawil yang berarti istana kuno; Qa'r al-Tsawrah yang berarti istana revolusi. Bersamaan dengan runtuhnya kolonialisme Inggris sekitar akhir era 1960-an, berakhir pula kekuasaan Dinasti al-Katiri. Seiyun lantas berubah status menjadi kota madya di Propinsi Hadhramaut. Dan pada tahun 1984, Istana ini dialihfungsikan menjadi museum penyimpanan benda-benda purbakala, serta pusat kebudayaan masyarakat Seiyun. Babakan sejarah panjang Dinasti al-Katiri terekam dalam buku Tarikh al-Dawlah al-Katiriyyah, karya Muhammad ibn Hisyam.

Memasuki ruangan demi ruangan Istana setinggi tujuh lantai ini, para rombongan serasa memasuki 'dunia lain'. Di lantai dua misalnya, para pengunjung dapat menikmati berbagai macam peninggalan antik dari peradaban Seiyun sebelum Masehi, seperti mata uang kuno, alat pencaharian, serta batu-batu ukiran antik berusia ribuan tahun yang konon memiliki fungsi istimewa dalam dinamika keseharian masyakarakat kala itu. Di lantai tiga, dipajang alat-alat pertanian, bercocok tanam serta peralatan perang, dan lantai empat dijadikan museum foto yang merekam dokumentasi masyarakat Seiyun selama puluhan tahun.

Begitu pula lantai-lantai lainnya yang memiliki kekhususan tersendiri. Bagi pengunjung yang terburu-buru dan tidak memiliki waktu banyak, tidak perlu khawatir, karena kini telah disediakan 'bioskop mini' di dalam Istana yang memutar film singkat peradaban Negeri Yaman secara umum dan Seiyun secara khusus.



( rmd / rmd )



Twitter Recommendation
Redaksi: ramdhan[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi sales[at]detik.com

Kirim Pertanyaan + Indeks