detikcom
Senin, 05/09/2011 08:28 WIB

Hakikat Kebangkrutan

Rikza Maulan - detikRamadan
Halaman 1 dari 3
Jakarta - Dari Abu Hurairah RA berkata, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, 'Tahukah kalian siapakah orang yang muflis (bangkrut) itu? Para sahabat menjawab, 'Orang yang muflis (bangkrut) di antara kami adalah orang yang tidak punya dirham dan tidak punya harta.'

Rasulullah SAW bersabda, 'Orang yang muflis (bangkrut) dari umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan (pahala) melaksanakan salat, menjalankan puasa dan menunaikan zakat, namun ia juga datang (membawa dosa) dengan mencela si ini, menuduh si ini, memakan harta ini dan menumpahkan darah si ini serta memukul si ini. Maka akan diberinya orang-orang tersebut dari kebaikan-kebaikannya. Dan jika kebaikannya telah habis sebelum ia menunaikan kewajibannya, diambillah keburukan dosa-dosa mereka, lalu dicampakkan padanya dan ia dilemparkan ke dalam neraka. (HR Muslim, Turmudzi & Ahmad)

Terdapat beberapa hikmah yang dapat dipetik dari hadits di atas. Di antara hikmah-hikmah tersebut adalah sebagai berikut:

1. Pentingnya beramal saleh berupa ibadah kepada Allah SWT seperti salat, puasa, zakat maupun amaliyah ubudiyah lainnya. Karena hal tersebut merupakan amaliyah yang mendapatkan prioritas untuk dihisab pada yaumul akhir.

Hadis di atas menggambarkan penyebutan salat, puasa dan zakat lebih awal, daripada bentuk amaliyah dengan sesama manusia. Dalam sebuah hadis diriwayatkan, "Sesungguhnya yang pertama kali akan dihisab dari seorang hamba adalah salatnya. Jika baik salatnya, maka sungguh ia beruntung dan sukses. Namun jika salatnya fasad, maka ia akan menyesal dan merugi." (HR Nasa'I, Ibnu Majah & Ahmad)

2. Gambaran dan pembelajaran Rasulullah SAW yang 'visioner' mengenai definisi muflis atau bangkrut terhadap para sahabatnya. Secara visi jangka pendek, kebangkrutan adalah orang yang tidak memiliki dinar, dirham maupun harta benda dalam kehidupannya. Dan hal inilah yang disampaikan para sahabat kepada Rasulullah SAW ketika beliau bertanya kepada mereka mengenai kebangkrutan.

Namun Rasulullah SAW memberikan pandangan yang jauh ke depan mengenai hakikat dari kebangkrutan, yaitu pandangan kebangkrutan yang hakiki di akhirat kelak. Hal ini sekaligus menunjukkan, bahwa seorang mukmin harus memiliki visi ukhrawi dalam melihat dan menjalankan kehidupan di dunia, seperti visi dalam bekerja, berumah tangga, berinvestasi, dsb, yang selalu mendatangkan manfaat bukan hanya di dunia, namun juga di akhirat.Next

Halaman 1 2 3


( gst / vit )



Twitter Recommendation
Redaksi: ramdhan[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi sales[at]detik.com

berita
terbaru
Kirim Pertanyaan + Indeks