detikcom
Minggu, 04/09/2011 15:13 WIB

Meraih Kebaikan Dunia & Segala Isinya

Rikza Maulan - detikRamadan
Jakarta - Dari Aisyah RA, bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Dua rakaat salat sunnah fajar, lebih baik daripada dunia dan segala isinya." (HR Muslim, Turmudzi, Nasa'i & Ahmad)

Terdapat beberapa hikmah yang dapat dipetik dari hadits di atas. Di antara hikmah-hikmah tersebut adalah sebagai berikut:

1. Bahwa seorang Muslim seyogianya adalah seseorang yang memiliki visi jangka panjang, yaitu visi ukhrawi (baca: visi untuk kehidupan akhiratnya kelak). Sehingga dari visi seperti ini, ia akan memiliki orientasi bahwa kebaikan dalam pandangannya adalah kebaikan yang berdimensi pada kebaikan akhirat, bukan hanya kebaikan yang berdimensi untuk benefit duniawi semata.

Karena orang yang memiliki orientasi kehidupan dunia, ia hanya akan mendapatkan dunia saja dan ia tidak akan mendapatkan apapun di akhirat kelak. Sebaliknya, seseorang yang memiliki visi akhirat yang mencari keridhaan Allah SWT, maka ia akan mendapatkan kebaikan dunia dan akhirat.

Allah SWT berfirman, "Barang siapa yang menghendaki pahala di dunia saja, (maka ia merugi), karena di sisi Allah lah pahala dunia dan akhirat. Dan Allah Maha Melihat lagi Maha Mendengar." (QS An-Nisa' (4): 134)

2. Kendatipun dunia memiliki keindahan yang mempesona, yang terkadang membuat banyak orang terperdaya, namun ternyata ada hal yang jauh lebih baik dibandingkan dengan keindahan dunia yang mempesona dengan segala isinya. Namun justru seringkali kebaikan yang lebih baik daripada dunia ini diabaikan oleh banyak orang.

Karena memang kebaikan ini adalah kebaikan yang tidak tampak oleh kasat mata dan tidak teraba oleh indra manusia di dunia. Ia hanya diyakini oleh mereka-mereka yang memiliki keimanan yang kokoh kepada Allah SWT.

Dalam riwayat lainnya Rasulullah SAW bersabda, "Dari Mustaurid bin Syadad RA berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Tidaklah dunia ini dibandingkan dengan akhirat kecuali seperti jari yang dicelupkan salah seorang di antara kalian ke dalam air laut, lalu ditarik kembali jari tersebut. Lihatlah, betapa sedikit air yang menempel di jari itu" (HR Muslim)

3. Bahwa kebaikan yang lebih mulia dibandingkan dengan dunia dengan segala isinya, ternyata adalah sesuatu yang ringan untuk dilakukan, yaitu salat sunnah dua rakaat sebelum fajar, atau sering disebut dengan sunnatul fajr. Salat sunnah ini merupakan salat sunnah yang ringan dikerjakan, karena bacaan yang digunakan dalam salat sunnah ini adalah bacaan ringan, jumlah rakaatnya pun juga ringan, hanya dua rakaat yang dilakukan sebelum salat subuh (qabliyah subuh).

4. Meskipun ringan untuk dikerjakan, ternyata bobot kebaikan sunnah fajar melebihi kebaikan dunia dengan segala isinya. Dan demikian tingginya nilai salat sunnah dua rakaat sebelum subuh ini, hingga Rasulullah SAW sangat komitmen untuk melaksanakannya dan tidak pernah meninggalkannya sepanjang hidup beliau.

Dalam sebuah riwayat disebutkan, "Dari Aisyah RA bahwasanya Rasulullah SAW tidak pernah mengerjakan salat-salat sunnah, serajin ketika beliau mengerjakan salat sunnah dua rakaat sebelum subuh." (HR Muslim)

5. Demikian ringannya salat sunnah fajar ini, hingga Rasulullah SAW mengerjakannya dengan cepat dan surat yang dibaca pun adalah surat-surat yang ringan. Salat ini pun disunnahkan untuk dikerjakan di rumah.

Dikatakan oleh Hafsah RA dalam sebuah riwayat, 'Bahwa Rasulullah Saw. mengerjakan shalat dua rakaat fajar sebelum subuh di rumahku dan beliau melaksanakannya dengan cepat sekali.' Nafi' berkata, 'Abdullah bin Umar RA juga melakukannya dengan cepat.' (HR Bukhari, Muslim & Ahmad).

Jumlah rakaatnya hanya dua rakaat, dan disunnahkan untuk membaca Surah Al-Kafirun (setelah al-Fathihah) pada rakaat pertama, dan surat Al-Ikhlas (setelah al-Fatihah) pada rakaat kedua. Dari Aisyah RA, bahwasanya Rasulullah SAW membaca dalam dua rakaat sunnah fajar surat al-Kafirun dan surat al-Ikhlas. Beliau membacanya dengan sir (suara dipelankan). (HR Ahmad)

6. Pada dasarnya setelah melaksanakan salat sunnah fajar, tidak ada doa khusus yang diajarkan oleh Rasulullah SAW. Namun dalam kitab fiqh sunnah dijelaskan bahwa Ibnus Sunni dari Abul Malih (Amir bin Usamah) dari ayahnya bahwa ia mengerjakan salat sunnah fajar berdekatan dengan Rasulullah SAW. Ia mendengar Rasulullah SAW membaca bacaan sambli duduk setelah selesai mengerjakan sunnah fajar dengan doa, "Ya Allah, Tuhan Jibril, Israfil, Mikail dan Muhammad SAW, aku mohon perlindungan-Mu dari siksa api neraka" (tiga kali).

7. Salat sunnah fajar boleh di-qadha pelaksanaanya ke waktu ba'da subuh. Sunnah Fajar dapat dilaksanakan setelah salat subuh, atau bahkan setelah matahari terbit. Dalam sebuah riwayat disebutkan, Dari Qais bin Umar RA, bahwa ia keluar untuk melaksanakan salat subuh dan di masjid ia mendapatkan Rasulullah SAW sedang melaksanakan salat subuh, sedang ia sendiri belum mengerjakan dua rakaat sunah fajar.

Ia pun langsung mengerjakan salat subuh bersama Rasulullah SAW. Kemudian setelah selesai, ia berdiri lagi dan mengerjakan salat sunnah fajar dua rakaat. Rasulullah SAW pun berjalan mendekatinya dan bertanya, 'Shlat apakah yang dilakukannya tadi?' Ia menjawab, 'Mengqadha' shlat sunnah fajar.' Rasulullah SAW diam saja dan tidak memberikan teguran sesuatu pun. (HR Ahmad, Ibnu Khuzaimah & Ibnu Hibban).

Namun hendaknya untuk meng-qadha'-nya perlu memperhatikan kondisi masjid atau masyarakat setempat, agar tidak menimbulkan fitnah. Mengerjakannya di rumah sebelum salat subuh berjamaah di masjid, merupakan alternatif yang cukup bijak.

8. Hendaknya setiap muslim berupaya semaksimal mungkin untuk melaksanakan shalat subuh berjamaah di masjid, yang didahului sebelumnya dengan melaksanakan sunnah fajar. Karena dalam shalat sunnah yang ringan ini ternyata memiliki kebaikan yang jauh lebih bernilai dari dunia dan segala isinya.

Ditambah lagi bahwa waktu subuh merupakan waktu yang sangat krusial dalam kehipuan insan. Dan akan sangat merugilah mereka-mereka yang terlalaikan dengan waktu subuh ini. Dalam riwayat disebutkan: "Dari Abu Hurairah RA bahwa Rasulullah SAW bersabda, 'Bergantian kepada kalian malaikat di malam hari dengan malaikat di siang hari. Mereka bertemu pada waktu salat subuh dan salat ashar, kemudian mereka naik kepada Allah SWT. Lalu Allah SWT bertanya kepada mereka, sedang Ia lebih mengetahui kondisi hamba-hamba-Nya, 'Bagaimana kalian meninggalkan hamba-hamba-Ku? Malaikat menjawab, 'Kami tinggalkan mereka dalam kondisi sedang salat dan kami datangi mereka juga dalam kondisi sedang salat."

Wallahu a'lam bis shawab.

*) Rikza Maulan Lc M Ag adalah Sekretaris Dewan Pengawas Syariah – PT Asuransi Takaful Keluarga.

( gst / vit )


Komentar (0 Komentar)

     atau daftar untuk mengirim komentar
    Tampilkan Komentar di:        

    Twitter Recommendation
    Redaksi: ramdhan[at]detik.com
    Informasi pemasangan iklan
    Hubungi sales[at]detik.com

    berita
    terbaru
    Kirim Pertanyaan + Indeks
    MustRead close