detikcom
Rabu, 31/08/2011 06:54 WIB

Idul Fitri Momentum Rekatkan Silaturahmi

KH Abdullah Gymnastiar - detikRamadan
Jakarta - Hari raya Idul Fitri telah tiba. Saatnya umat Islam saling bermaafan dalam bingkai silaturahmi, sebagai penyempurna untuk menggapai ampunan Allah, setelah sebulan penuh kita berlomba untuk meraih ampunan Ilahi. Selesai salat Id, dilanjutkan dengan saling silaturahmi di antara tetangga, karib kerabat dan handai taulan. Walaupun bermaafan bukan berarti di luar hari Idul Fitri ini dihindari, melainkan menjadikan momentum saat ini yang juga tepat untuk bersama-sama kita jalani karena Allah SWT.

Dengan berakhirnya bulan Ramadan tahun ini, marilah kita jalani kehidupan kembali ke fitrah kita, sebagai insan Allah SWT yang bertauhid, dan dengan semangat yang baru pada Hari Raya Idul Fitri, terutama diawali dengan kegiatan bernilai ibadah pula, yakni silaturahmi.

Dalam perjalanan sirah (sejarah Islam), Nabi Muhammad SAW saat menjalankan salat idul fitri di tanah lapang, beliau selalu berbeda jalan ketika berangkat dan pulang dari masjid. Hal ini memiliki maksud, yaitu beliau SAW setiap waktu ingin selalu memperbanyak silaturahmi dengan masyarakat.

Kedahsyatan manfaat silaturahmi akan menjadikan kita senantiasa berniat untuk bersilaturahmi. Setidaknya silaturahmi yang baik akan menambah saudara baru dan mempereratnya, menambah wawasan dan ilmu serta semakin menambah kekuatan bagi ukhuwah kita. Sering terjadinya salah paham karena lemahnya komunikasi akibat jarangnya bersilahturami. Pendek kata, silaturahmi yang teratur dan terprogram dengan baik adalah bagian kunci suksesnya ukhuwah.

Silaturahmi tidak sekadar bersentuhan tangan atau memohon maaf belaka. Ada sesuatu yang lebih hakiki dari itu semua, yaitu aspek mental dan keluasan hati. Hal ini sesuai dengan asal kata silaturahmi itu sendiri, yaitu shilat atau washl, yang berarti menyambungkan atau menghimpun, dan ar-rahiim yang berarti kasih sayang.

Makna menyambungkan bermakna pada sebuah aktivitas yang asalnya tidak tersambung. Menghimpun menunjukkan makna sesuatu yang tercerai-berai dan berantakan, menjadi sesuatu yang bersatu dan utuh kembali. Tentang hal ini Rasulullah SAW bersabda, "Yang disebut bersilaturahmi itu bukanlah seseorang yang membalas kunjungan atau pemberian, melainkan bersilaturahmi itu ialah menyambungkan apa yang telah putus" (HR Bukhari).

Bersilaturahmi berarti pula menciptakan pola pergaulan bernuansa kasih sayang dari hati ke hati karena Allah SWT. Hal ini, insya Allah, akan terasa sangat indah dan menyenangkan. Pergaulan yang dilakukan karena rekayasa demi kepentingan 'sesaat' tidak akan pernah langgeng dan cenderung menimbulkan masalah.

Oleh karena itu, menjadi sangat penting bagi kita untuk menyadari bahwa silaturahmi tidak hanya terlihat lahiriah saja, namun harus melibatkan pula aspek hati. Dengan semua ini, kita akan mempunyai kekuatan untuk bisa berbuat lebih baik dan lebih bermutu daripada yang dilakukan orang lain pada kita.

( gst / vit )


Komentar (0 Komentar)

     atau daftar untuk mengirim komentar
    Tampilkan Komentar di:        

    Twitter Recommendation
    Redaksi: ramdhan[at]detik.com
    Informasi pemasangan iklan
    Hubungi sales[at]detik.com

    berita
    terbaru
    Kirim Pertanyaan + Indeks
    MustRead close