detikcom
Jumat, 26/08/2011 16:14 WIB

Surah al-Qari'ah

Alif Magz - detikRamadan
Jakarta - Surah al-Qari'ah artinya adalah mengetuk dengan keras

Intisari Kandungan Ayat 1-5

Surah yang lalu (al-'Adiyat), diakhiri dengan uraian tentang Hari Kiamat yang menjelaskan tentang akan diperiksanya segala sesuatu, termasuk isi hati manusia. Surah ini berbicara juga tentang Hari Kiamat, dari sisi awal kejadian-nya yang mengetuk dengan keras telinga, pikiran, dan jiwa manusia serta menjelaskan sekelumit dari proses pemeriksaan yang diuraikan oleh surah yang lalu. Surah ini dimulai dengan menyebut al-Qari'ah yang secara harfiah berarti sesuatu yang mengetuk dengan keras/menggedor sehingga memekakkan telinga. Yang dimaksud adalah peristiwa Kiamat. Lalu, untuk menampilkan kedahsyatan peristiwa penggedoran itu sekaligus untuk mengundang perhatian pendengarnya, ayat 2 “menanyakan”: Apakah al-Qari'ah, yakni suara yang memekakkan itu? Ia sungguh sangat menegangkan dan sangat sulit engkau jangkau hakikatnya, walaupun engkau berusaha sekuat kemampuanmu. Di sana, terjadi hal-hal yang tidak dapat dicakup penjelasannya oleh bahasa manusia, tidak juga dapat tergambar kedahsyatannya oleh nalar. Itulah lebih kurang makna ayat 3 yang secara harfiah berarti: Apakah yang menjadikan engkau tahu apa al-Qari'ah? Selanjutnya, ayat 4 menggambarkan sekelumit dari peristiwa itu, yakni pada hari itu manusia seperti anai-anai yang bertebaran, karena banyak, bertumpuk, serta lemahnya mereka, dan juga karena sebagian besar mereka terjerumus dalam api yang menyala-nyala. Ayat 5 menggambarkan keadaan gunung-gunung yang kini terlihat sedemikian tegar, tetapi ketika itu ia menjadi seperti bulu atau kapas berwarna-warni yang demikian ringan dan yang dihambur-hamburkan sehingga bagian-bagiannya terpisahpisah diterbangkan angin.

Pelajaran yang Dapat Dipetik Dari Ayat 1-5

1. Peristiwa Kiamat sangat dahsyat dan tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata. Ketika itu, semua lemah lunglai, jangankan manusia, gunung pun hancur lebur sehingga menjadi seperti kapas atau bulu yang diterbangkan angin.
2. Gunung-gunung dalam kehidupan dunia bermacammacam karena perbedaan materi-materi yang dikandung oleh bebatuannya. Jika materinya besi, maka warna dominannya adalah merah; jika materinya batubara, maka warna dominannya hitam; jika materinya perunggu, maka gunung tersebut berwarna kehijau-hijauan; dan seterusnya.

Intisari Kandungan Ayat 6-11

Setelah ayat-ayat yang lalu mengisyaratkan betapa dahsyatnya Hari Kiamat, ayat-ayat di atas menguraikan proses yang akan dialami manusia dalam kaitannya dengan pertanggungjawaban mereka. Ayat-ayat di atas bagaikan menyatakan: Ketika itu semua manusia akan dihadapkan pada satu pengadilan yang sangat teliti lagi adil. Amal-amal mereka akan ditimbang dalam timbangan yang hak, maka adapun orang yang berat timbangan kebaikannya, karena mengikuti kebenaran yang diajarkan Allah dan Rasul-Nya, maka tujuannya adalah tempat yang tinggi dan dia berada dalam satu kehidupan yang sangat memuaskan hingga dia tidak mengharap lagi sesuatu yang lain. Adapun orang-orang yang ringan timbangan kebaikannya, maka dia berada dalam satu kehidupan yang sangat buruk dan tujuannya adalah neraka Hawiyah. Demikian ayat-ayat 6-9. Selanjutnya, ayat 10 menggambarkan kedahsyatan neraka Hawiyah dengan mengajukan "pertanyaan" yakni apakah yang menjadikan engkau tahu walau engkau berusaha sekuat tenaga apakah ia itu? Yakni engkau, siapa pun engkau, tidak dapat menjangkau betapa dahsyat neraka Hawiyah itu. Ayat 11 menggambarkan sekilas tentang neraka itu yakni: Ia adalah api yang berkobar dengan amat besar lagi sangat panas yang tingkat kepanasannya tidak akan pernah dicapai jenis api yang lain, walaupun api yang lain itu terus-menerus menyala-nyala dan selalu diisi dengan bahan bakar.

Pelajaran yang dapat dipetik dari ayat 6-11

1. Di Hari Kemudian ada yang dinamai Mazan, yakni timbangan. Kita tidak tahu bagaimana bentuk dan sifatnya. Yang wajib diyakini bahwa Allah Maha Adil dan kelak di Hari Kemudian ada tolok ukur yang pasti lagi benar untuk menilai amal-amal perbuatan manusia, dan ini hanya diketahui oleh Allah SWT karena tidak ada yang mengetahui kadar niat dan keikhlasan seseorang kecuali Allah SWT sedang amal selalu berkaitan dengan niat.
2. Amal kebaikan dan kejahatan masing-masing orang, ditimbang, lalu mana yang berat itulah yang menentukan kebahagiaan atau kesengsaraan manusia.
3. Amal-amal yang baik atau yang buruk, bertingkattingkat kebaikan dan keburukannya. Karena itu, ada amal-amal baik yang sangat dianjurkan dan ada
juga yang sekadar dianjurkan. Demikian juga sebaliknya ada keburukan yang haram dan ada juga yang hanya makruh.

Demikian, wa Allah A'lam.

(Tafsir Al Misbah ini merupakan kerja sama detikcom dengan www.alifmagz.com)
( gst / vit )


Komentar (0 Komentar)

     atau daftar untuk mengirim komentar
    Tampilkan Komentar di:        

    Twitter Recommendation
    Redaksi: ramdhan[at]detik.com
    Informasi pemasangan iklan
    Hubungi sales[at]detik.com

    berita
    terbaru
    Kirim Pertanyaan + Indeks
    MustRead close