detikcom
Kamis, 11/08/2011 15:34 WIB

Surah at-Tin

Alif Magz - detikRamadan
Jakarta -

Inti Sari Kandungan Ayat 1-4



Surah yang lalu (Alam Nasyrah), mengandung uraian tentang Rasulullah Muhammad SAW, yang telah dianugerahi sekian banyak keistimewaan oleh Allah swt., antara lain kelapangan dada, keringanan beban, keharuman nama, dan lain-lain.



Keistimewaan-keistimewaan tersebut menjadikan beliau manusia sempurna (insan kamil). Dalam surah at-Tin ini, diuraikan tentang jenis manusia dengan potensi baik dan buruknya, dan bahwa bila mereka ingin mengembangkan potensi baiknya, maka wajar bila mereka menjadikan Nabi Muhammad saw,-yang merupakan insan kamil (manusia semprna) itu-sebagai suri tauladan.



Surah ini dimulai dengan sumpah Allah menyangkut empat hal



1. At-Tin, yakni pohon/buah Tin atau tempat tumbuhnya, atau tempat seorang nabi menerima wahyu Ilahi[1].



2. Az-zaitun, yakni pohon/buah zaitun, atau tempat tumbuhnya, atau tempat Nabi Isa as. menerima wahyu[1].



3.Bukit Sinai dimana Nabi Musa as. memperoleh wahyu Ilahi [2].



4. Kota Mekkah yang dilukiskan sebagai tempat yang aman di mana Nabi Muhammad saw. pertama kali menerima wahyu [3].



Demi keempat hal diatas, Allah menegaskan bahwa : “Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya”[4].



Pelajaran Yang Dapat Dipetik Dari Ayat 1-4



1. Dengan bersumpah menyebut tempat-tempat memancarnya cahaya Tuhan yang benderang, ayat-ayat di atas seakan-akan menyampaikan pesan bahwa manusia yang diciptakan Allah dalam bentuk fisik dan psikis yang sebaik-baiknya akan bertahan dalam keadaan seperti itu, selama mereka mengikuti petunjuk-petunjuk yang disampaikan kepada para nabi tersebut di tempat-tempat suci itu.



2.Manusia diciptakan dalam bentuk fisik dan psikis yang sebaik-baiknya intuk melaksanakan fungsi kekhalifahan, yakni beribadah kepada-Nya dengan membangun dunia ini sesuai kehendak Allah.



3. Ada peranan orang tua dalam kelahiran anak dan dalam kesempurnaan penciptaannya. Itu dipahami dari penggunaan kata “Kami“ pada ayat 4 di atas. Karena itu, ibu bapak harus berusaha mengikuti tuntunan yang berkaitan dengan kelahiran pertumbuhan/pengembangan dan pendidikan anak-anaknya.



Inti Sari Kandungan Ayat 5-8



Ayat 5 melukiskan bahwa manusia yang telah diciptakan Allah dalam bentuk yang sebaik-baiknya itu, akibat satu dan lain hal, dikembalikan Allah akibat ulah manusia itu sendiri ke (tingkat) yang serendah-rendahnya. Ayat 6 mengecualikan dengan menyatakan, tetapi orang-orang yang beriman dengan keimanan yang benar dan membuktikan kebenaran imannya dengan mengerjakan amal-amal yang saleh, maka bagi mereka secara khusus pahala agung yang tiada putus-putusnya.



Jika demikian itu haknya, yakni Allah member ganjaran dan balasan, maka ayat 7 dan 8 mengecam para pendurhaka dengan menyatakan-maka apakah yang menyebabkanmu wahai manusia durhaka mengingkari keniscayaan Hari Pembalasan sesudah jelasnya keterangan-keterangan itu [7]. Bukankah Allah yang telah mencipta manusia dalma bentuk yang sebaik-baiknya dan mengutus para nabi untuk menunjuki manusia jalan lurus serta memberi balasan dan ganjaran yang adil, bukankah DIa sebijaksana-sebijaksana dan seadil-adilnya Hakam/Hakim Pemutus Perkara dan Pengatur segala sesuatu? [8]. Benar, Dia adalah sebaik-baik Hakam!



Pelajaran Yang Dapat Dipetik Dari Ayat 5-8



1. Manusia mencapai tingkat yang setingi-tingginya (ahsan taqwim) bila dia berhasil memadukan secara seimbang anatar kebutuhan jasmani dna rohaninya, fisik dan jiwa. Bila dia hanya memerhatikan dan melayani kebutuhan-kebutuhan jasmaninya saja, atau melayaninya secara tidak seimbang, maka dia akan kembali atau dikembalikan kepada proses awal kejadiannya, sebelum Ruh Ilahi itu menyentuh fisiknya.



2. Kejatuhan manusia ke tingkat serendah-rendahnya itu adalah karena ulahnya sendiri. Keterlibatan Allah dalam kejatuhan itu berkaitan dengan sistem yang ditetapkan-Nya, di mana manusia lebih memilih jalan yang ditempuhnya.



3.Allah adalah sebaik-baiknya hakam, yakni semua ketetapan-Nya mengandung hikmah-termasuk penciptaan manusia. Karena itu, tidak mungkin Dia mempersamakan antara yang taat dengan yang durhaka. Tidak mungkin pula Dia membiarkan mereka tanpa balasan. Karena itu sungguh mengherankan jika ada yang meragukan adanya Hari Pembalasan.



Demikian, wa Allah A’lam.



(Tafsir Al Misbah ini merupakan kerja sama detikcom dengan www.alifmagz.com)

( gst / vit )


Komentar (0 Komentar)

     atau daftar untuk mengirim komentar
    Tampilkan Komentar di:        

    Twitter Recommendation
    Redaksi: ramdhan[at]detik.com
    Informasi pemasangan iklan
    Hubungi sales[at]detik.com

    berita
    terbaru
    Kirim Pertanyaan + Indeks
    MustRead close