detikcom
Kamis, 11/08/2011 09:27 WIB

Kasihan Para Istri, Apa yang Harus Dilakukannya?

Alif Magz - detikRamadan
Jakarta - Kalau dia diam, kita menuduhnya berakal kosong sehingga tidak ada yang dapat dia katakan. Sedang kalau dia berbicara kita memakinya dengan cerewet. Dia lupa bahwa tugas istri adalah menenangkan pikiran suami yang sudah demikian letih dengan aneka problem dan beban.

Kalau dia keluar rumah, kita menilainya tidak betah di rumah, mengabaikan urusan anak-anaknya dan membiarkan mereka dididik oleh pembantu. Sedang kalau dia mengurung dirinya di dalam rumah kita berkata bahwa dia enggan menambah wawasannya melalui pertemuan dengan orang lain atau malas menambah pengetahuannya menyangkut apa yang terjadi di luar batas rumah.

Kalau ia tidak bertanya tentang ihwal pekerjaan suaminya, kita menilainya sebagai perempuan yang tidak memiliki arti, tidak dapat meningkat bersama suaminya menuju masa depan, dan tidak juga berusaha untuk berbagi kesulitan dengan suaminya. Sedang bila ia menanyakan ihwal pekerjaan suaminya, maka kita berkata bahwa dia ingin mencampuri segala urusan suaminya.

Kalau dia sayang ibunya dan menggunakan setiap kesempatan untuk mengunjunginya, maka kita menilainya masih kekanak-kanakan; berlari menuju ibu untuk meminta saran buat setiap langkah yang diayunkannya. Sedang bila ia mengurangi kunjungannya kepada ibunya, ia dinilai perempuan yang angkuh yang enggan meraih manfaat dari pengalaman ibunya.

Kalau dia berbicara tentang politik, kita berkata bahwa dia ingin memamerkan pengatahuannya. Sedang kalau dia berbicara menyangkut tetangga, kita berkata bahwa dia seorang yang sempit wawasannya, yang tidak memerhatikan kecuali persoalan yang remeh. Kalau dia berbicara tentang cinta, ia dinilai sebagai wanita picik yang menduga bahwa dunia hanyalah cinta dan asmara.

Kalau dia mengabaikan pakaiannaya, kita menilainya perempuan bodoh yang menduga bahwa tujuan kerapian adalah memancing suami bukan untuk mempertahankannya. Tetapi bila dia memerhatikan pakaiannya kita menuduhnya masih remaja dn bahwa dia lupa bahwa suaminya membeli untuknya pakaian melalui keringat, darah dan stres yang dialaminya.

Kalau dia meminta kepada suaminya agar diajak ke pesta, kita menuduhnya sangat egois dan lupa bahwa suaminya butuh istirahat setelah bekerja keras. Sedang kalau dia mengusulkan kepada suaminya agar tetap berada dirumah, kita menuduhnya sebagai pencemburu yang memenjarakan suami di rumah dan menghalanginya menghirup iudara segar.

Demikianlah. Tidakkah Anda sependapat bahwa kita telah mendzalimi istri masa kini? Kolom 'Fikrah', Koran al-Akhbar Cairo, 6 Juli 1959)

(Sumber buku: Yang Ringan yang Jenaka – M Quraish Shihab)

(Hikayat ini merupakan kerja sama detikcom dengan www.alifmagz.com)

( gst / vit )



Twitter Recommendation
Redaksi: ramdhan[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi sales[at]detik.com

Kirim Pertanyaan + Indeks