detikcom
Kamis, 28/07/2011 13:35 WIB

Masyarakat Riau Mandi Bersama Menyambut Bulan Ramadan

Chaidir Anwar Tanjung - detikRamadan
Jakarta - Menyambut bulan Ramadan dengan hati yang gembira, bagian dari keimanan seseorang. Salah satu bentuk sambutan penuh suka cita itu, masyarakat Melayu Riau melakukan tradisi mandi bersama di sungai. Masing-masing daerah saling berbeda sebutannya tradisi tersebut. Kendari demikian, tradisi ini tidak terlepas pro dan kontra di kalangan masyarakat Muslim.

Sebuah tradisi turun temurun masyarakat Riau dalam menyambut bulan suci Ramadan, salah satunya adalah mandi bersama di aliran sungai. Untuk di Kabupaten Kampar, tradisi ini disebuti Mandi Balimau- (limau artinya Jjeruk). Di ibukota Provinsi Riau, Pekanbaru, tradisi ini disebut Petang Megang. Sebutan nama yang berbeda, namun tata cara tradisi ini memiliki kesamaan.

Di Kabupaten Kampar yang dijuluki daerah Serambi Makkahnya Riau, tradisi mandi balimau ini dilaksanakan usai salat ashar sehari menjelang puasa. Acara ini pun menjadi agenda rutin Pemkab Kampar yang berbaur dengan masyarakat untuk menggelar 'pesta' menyambut puasa. Ribuan masyarakat akan berkumpul di salah satu lokasi yang sudah disiapkan panitia. Lokasi tempat pemandian itu berada di aliran Sungai Kampar.

Di sanalah, ribuan masyarakat berduyun-duyun dengan rasa kegembiraan untuk melaksanakan tradisi mandi baliau. Sebuah tradisi yang sudah turun temuran itu, biasanya masyarakat membawa sejumlah kebutuhan untuk mandi. Salah satunya adalah menyiapkan buang-buang yang harum bersama jeruk. Buang dan air jeruk ini akan dibasuhkan ke sekujur tubuh yang akan menyisahkan bau harum nan alami.

Tidak tau pasti, kapan tradisi ini dimulai masyarakat di sana. Namun legendanya, mengapa harus mandi di sungai, ini tidak lain tentunya masih berbau klenik. Zaman dulu, masyarakat meyakini bahwa untuk menyambut bulan suci ramadan, secara lahiriah sekujur tuhbuh harus dibersihkan. Salah satu untuk membersihkan badan itu, dengan cara mandi air kembang yang dicampur dengan air jeruk. Konon pula, dulunya mandi ini juga pakai jampi-jampian, dengan harapan, bila ada makhluk halus yang mengikut ke badan seseorang saat mandi balimau bisa terhapus semua. Benar atau tidak cerita itu, namun yang pasti tradisi mandi balimau masih menjadi akar budaya yang tidak terlepaskan di Riau.

Karena kemajuan zaman, tradisi mandi ini tidak lagi sekadar membawa kembang tujuh rupa atau jeruk nipis. Namun acara ini akan dibarengi berbagai hiburan yang bernuasan islami. Misalnya saja, masing-masing kecematan nantinya akan membuat kapal-kapal hias yang tentunya berbentuk masjid. Kapal-kapal hiasa bernuasan Islami inilah, nantinya dari bagian hulu akan mengalir ke hilir di lokasi pemandian tersebut.

Acara ini pun secara resmi dilaksanakan pemerintah setempat. Alunan musik rebana pun mengiringi tradisi mandi balimau. Di sungai itulah, masyarakat mandi bersama dengan suka cita menyambut datangnya bulan suci ramadan. Tidak sebatas tradisi mandinya saja, acara ini pun menjadi perhelatan akbar yang menjadi tontonan masyarakat lainnya dari Pekanbaru. Karena dari sekian banyak kabupaten di Riau, acara mandi balimau paling ramai dilaksanakan masyarakat setempat.

Di Pekanbaru sendiri, acara mandi yang disebut dengan istilah Petang Megang ini, juga dilaksanakan sehari sebelum bulan puasa. Lokasinya, di pilih di bawah jembatan Siak I yang membentang diatas sungai Siak yang terdalam di Indonesia itu. Lokasinya di tengah kota yang juga menjadi hiburan tersendiri buat masyarakat setempat. Walau tidak seramai di Kabupaten Kampar, tapi paling tidak, masyarakat Pekanbaru juga menyambut gembira datangnya bulan suci itu.

Hanya saja di Pekanbaru, masyarakatnya tidak melakukan mandi bersama di Sungai Siak seperti yang dilakukan masyarakat di Kampar. Ini mengingat air Sungai Siak yang sudah tercemar oleh limbah industri. Hanya secara simbolis, biasanya Pemerintah Kota Pekanbaru memberikan guyuran air yang sudah dikasih bunga dan air jeruk ke sejumlah anak-anak. Sebagai hiburannya selain musik rebana juga ada lomba menangkap bebek yang dilepas di sungai Siak. Acara ini akan berakhir menjelang azan maghrib.

Kendati demikian, tradisi ini tidak terlepas dari berbagai kritikan. Ini mengingat acara tersebut kadang dijadikan ajang pacaran muda mudi. Disamping itu acara ini dianggap lebih banyak mudharatnya ketimbang manfaatnya. Misalnya saja di Kabupaten Kampar, letak pemandian antara laki-kali dan perempuan nyaris tidak berjarak. Ada sebagian pihak menilai budaya ini tidak perlu diwariskan turun temuran karena dianggap bid'ah, karena diangap ada dalam Alqur'an atau hadis yang menyuruh umat Islam untuk mandi bersama.

Terlepas sebagian umat muslim ada yang kontra akan tradisi ini,namun dimata budayawan Riau, Al Azhar bahwa kebudayaan Melayu itu harus dipertahankan. Bagi Bang Al, begitu sapaan akrabnya, mandi bersama dalam menyambut ramadan, sudah menjadi tradisi yang sudah turun temurun.

"Tradisi itu tidak bisa dengan mudah untuk dihilangkan. Yang saya herankan, kenapa hal seperti itu menjadi masuk kontroversi keagamaan, apa toleransi budaya dalam beragaman di Riau ini salah? kemudian apakah kita ini tidak boleh lagi melakukan melakukan hal hal baik yang dilakukan oleh nenek moyang kami," kata Bang Al dalam perbincangan dengan detikcom, Kamis (28/7/2011) di Pekanbaru.

Menurutnya, tradisi mandi bersama yang dilakukan masyarakat Melayu Riau, merupakan budaya yang berjalan secara alamiah. Sehingga sekalipun ada kritikan atas budaya itu, tidak akan serta merta bisa menghentikan kebudayaan tersebut. Apa lagi kebudayaan ini melahirkan riligius masyarakat dalam bersuka cita menyambut bulan yang penuh dengan keberkahan.

"Kebudayaan mandi bersama ini sebenarnya juga ada di beberap provinsi lainnya di Sumatera ini. Lantas apa yang salah dalam tradisi ini? Bukankah tradisi ini melahirkan sebuah ikatan silahtuhrahmi sesama umat Muslim. Lagi pula, mandi bersama itu kan tidak dilakukan di tempat yang tersembunyi," kata Bang Al, yang juga dosen ilmu kebudayaan di Universitas Islam Riau (UIR).

Menurutnya, dari kacamata budaya, tradisi mandi bersama telah melahirkan silahtuhrahim dalam momen tertentu khususnya menyambut bulan puasa. Tradisi ini juga merupakan momen religius melakukan sebuah pesta bersama untuk menyambut datangnya Ramadan.

"Bagi saya tradisi kebudayaan ini harus terus dipertahankan. Apa lagi biasanya yang menentang itu hanya bicara asal beda saja. Kalau ada yang menilai bahwa tradisi kita ini tidak ada di zaman Rasul, itu memang benar. Dan kalau ada yang menyebut bid'ah itu juga tidak kita salahkan. Tapi apakah bid'ah itu tidak ada yang positif? Salahkah kita melaksanakan tradisi kita sendiri sepanjang itu tidak melabrak aturan agama? Hemat saya, tradisi tersebut tidak ada yang melanggar akidah," kata Al Azhar.


( cha / vit )


Komentar (0 Komentar)

     atau daftar untuk mengirim komentar
    Tampilkan Komentar di:        

    Twitter Recommendation
    Redaksi: ramdhan[at]detik.com
    Informasi pemasangan iklan
    Hubungi sales[at]detik.com

    Kirim Pertanyaan + Indeks
    MustRead close