Minggu, 05/09/2010 22:46 WIB
Mengoptimalkan Ramadan sebagai Pembangun Karakter Bangsa
Arry Rahmawan Destyanto - detikRamadan
Puasa pun diwajibkan bagi seluruh Umat Islam di dunia dan tidak menutup kemungkinan umat yang lain ikut berpuasa sebagai bagian dari sinergi strategis untuk menjaga kerukunan antar umat beragama. Dampaknya terlihat cukup signifikan, aktivitas-aktivitas negatif berhasil ditekan dan digantikan dengan aktivitas dengan nilai-nilai spiritual. Tidak hanya itu, media massa pun turut menyambut dengan meningkatkan program-program religius di bulan Ramadan ini.
Mari kita perluas cakrawala bahwa Ramadan sesungguhnya merupakan momen yang
tepat membentuk karakter bangsa Indonesia. Kita lihat kewajiban untuk berpuasa
di bulan Ramadan adalah suatu latihan yang luar biasa akan makna sebuah kejujuran.
Siapa yang bisa membedakan orang yang puasa dan tidak selain diri sendiri dan Tuhannya? Kemudia dalam berkata pun juga demikian. Semakin banyak kebohongan, maka semakin tidak bermaknalah puasa orang itu. Maka sudah jelas, orang yang berpuasa seharusnya terus menjaga nilai-nilai kejujuran di setiap aspek kehidupannya. Nilai kejujuran ini sangat merupakan tantangan terbesar yang dialami Indonesia saat ini di tengah banyaknya korupsi dan beragam kasus mafia yang ada.
Kemudian melaksanakan puasa dari subuh sampai maghrib, kewajiban melaksanakan
salat 5 waktu, anjuran bersedekah dan tarawih dengan rakaat 11 dan 23 bukankah
mengajarkan kita untuk bertanggungjawab? Bertanggungjawab di sini adalah melaksanakan amanah yang memang telah diperintahkan. Tidak menambah, mengurangi, bahkan mengubah substansi yang ada. Nilai-nilai tanggungjawab ini wajib dipelihara tidak hanya dalam ibadah, tetapi juga dalam mengerjakan setiap tugas yang diemban. Maka tidak akan ada rasa capek dan malas bila kita memang bersungguh-sungguh menempa diri di bulan Ramadan.
Kita juga harus ingat untuk apa kita susah payah berpuasa di bulan Ramadan.
Untuk apa kita puasa dan salat 5 waktu? Untuk apa kita mencoba mengkhatamkan
al-Qur'an di bulan ini? Untuk apa kita salat tarawih sampai 11 bahkan 23 rakaat?
Bukankah ini mengajarkan kepada kita nilai-nilai visioner untuk menggapai surgaNya? Bukankah ini mengajarkan sebuah integritas bahwa kita ada di sini sebagai hamba Tuhan? Maka nilai visioner dan integritas kuat ini harus kita bawa dalam setiap aspek kehidupan, mulai dari jangka pendek, menengah, dan panjang untuk membuat bangsa Indonesia menjadi lebih baik.
Tuhan juga mengajarkan kepada kita melalui Ramadan ini untuk menghargai waktu melalui momen sahur dan berbuka puasa. Melaksanakan shalat secara tepat waktu dan berpuasa sesuai waktu yang ditetapkan. Kedisiplinan. Itu hikmah penting yang bisa diambil. Maka seharusnya kita heran ketika kita yakin salat dan puasa kita benar, tetapi masih sering telat menghadiri rapat atau perjanjian yang telah dibuat.
Ramadan juga menjanjikan pahala puluhan kali lipat atas kebaikan yang dilakukan dibandingkan bulan lain. Perintah zakat, bersedekah, dan memberikan apa yang kita miliki secara sukarela kepada yang membutuhkan mengajarkan kepada kita pentingnya berlaku adil dan peduli terhadap sesama. Substansi dasarnya bukanlah berapa banyak beras yang diberikan, berapa banyak uang yang disedekahkan, tetapi apakah dengan itu semua kita seterusnya bisa peka terhadap kondisi sosial di sekitar kita? Itulah poin yang terpenting sebenarnya.
Ramadan sudah memasuki 10 hari terakhir. Apabila kita melihat masjid-masjid, maka di sana terlihat fenomena rutin dari tahun ke tahun bahwa semakin hari jamaah shalat berkurang. Ramadhan padahal belum berakhir. Hari kemenangan belum tiba, tetapi mengapa semangat sudah luntur? Kalau begitu ke mana nilai-nilai kejujuran ini setelah Ramadan berakhir? Bisakah kita semua menekan angka korupsi dan kasus-kasus persekongkolan kotor yang menunjukkan krisis kejujuran negeri ini?
Setelah Ramadan ini berakhir, mampukah kita mempertahankan tanggungjawab dan
menjalankan amanah yang diberikan kepada kita dengan baik? Mampukah para pemimpin membuat sejarah yang mengharumkan nama Indonesia? Setelah Ramadan ini berakhir, mampukah kita untuk terus visioner dan membuat bangsa ini memiliki visi yang jelas ke mana arah yang ingin dituju? Setelah Ramadan berakhir, mampukah kita terus mempertahankan semangat kedisiplinan dan menghargai waktu?
Masih adakah kata terlambat, excuse, dan ngaret dalam kamus kita? Bagaimana dengan rasa adil dan peduli kepada sesama? Apakah semua itu akan hilang dan membuat kita mengacuhkan kehidupan sosial sekitar kita ketika zakat fitrah sudah kita berikan? Apakah hanya sebatas itu kita memaknai zakat?
Maka mengapa kita tidak mengoptimalkan Ramadan kita kali ini dengan menjaga semangat dan menerapkan nilai-nilai yang sudah diajarkan? Kita tidak boleh hanya membiarkan mata kita yang melihat bahwa Ramadan ini adalah bulan pembentukan karakter, tetapi juga harus dimaknai dengan hati. Yang diperlihatkan Indonesia saat ini, Ramadan adalah bulan menuai amal dan berbuat baik.
Setelah Ramadan kembali melakukan maksiat dan dosa yang menghancurkan negeri ini. Kita pasti mengetahui dan heran kenapa koruptor negeri ini korupsi padahal sudah banyak melewati bulan Ramadan? Ramadan itu hanya sebatas ritual, tidak diintegrasikan dalam kehidupan.
Maka dengan 10 malam terakhir ini, jadikan Ramadan yang hanya 30 hari ini sebagai proses penempaan karakter bangsa Indonesia. Ambil hikmah sebanyak-banyaknya dari bulan Ramadan ini. Terapkan nilai dan hikmah itu dalam kehidupan selanjutnya, karena sungguh ujian yang lebih berat akan datang setelah kita melewati bulan Ramadan.
*)Arry Rahmawan Destyanto adalah warga Bogor, Jawa Barat.
( gst / vta )
Buruan BBM-an dengan BlackBerry® Curve™ 8520, kini hanya RP. 1.990.000,-
Baca juga:
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi bagian periklanan,
telepon 021-7941177 (ext.526).
Informasi pemasangan iklan
hubungi bagian periklanan,
telepon 021-7941177 (ext.526).
Berita Lain
- Senin, 05/09/2011 08:28 WIB
Hakikat Kebangkrutan
- Minggu, 04/09/2011 15:13 WIB
Meraih Kebaikan Dunia & Segala Isinya
- Minggu, 04/09/2011 09:44 WIB
Kelembutan Allah
- Sabtu, 03/09/2011 12:00 WIB
Memelihara Tali Silaturahmi
- Sabtu, 03/09/2011 09:54 WIB
Puasa, Pembinaan Akhlak, dan Sikap Umat
- Jumat, 02/09/2011 08:44 WIB
Ketika Para Pembesar Mulai Melanggar
-
Selasa, 30/08/2011 13:04 WIB
Kebersihan Adalah Setengah dari Keimanan (2)
-
Selasa, 30/08/2011 08:33 WIB
Memaafkan di Hari yang Fitri
-
Senin, 29/08/2011 17:40 WIB
Kebersihan Adalah Setengah dari Keimanan (1)
-
Senin, 29/08/2011 14:30 WIB
Antara Zakat dan Pengangguran
-
Minggu, 28/08/2011 14:37 WIB
Ramadan Melahirkan Ahli Dzikir
-
Minggu, 28/08/2011 12:22 WIB
Doa Ketika Mendapatkan Musibah

Sending your message