Kamis, 02/09/2010 12:46 WIB

Makna Hakiki Bulan Ramadan

Annisa M - detikRamadan
Jakarta - Bulan Ramadan sering dikiaskan dengan perumpamaan Tamu Agung yang istimewa. Perumpamaan dan keistimewaan itu tidak saja menunjukkan kesakralannya dibandingkan dengan bulan lain. Namun, mengandung suatu pengertian yang lebih nyata pada aspek penting adanya peluang bagi pendidikan manusia.

Karena itu, Bulan Ramadan dapat disebut sebagai Syahrut Tarbiyah atau Bulan Pendidikan. Penekanan pada kata Pendidikan ini menjadi penting karena pada bulan ini kita dididik langsung oleh Allah Swt.

Pendidikan itu meliputi aktivitas yang sebenarnya bersifat umum seperti makan pada waktunya sehingga kesehatan kita terjaga. Atau kita diajarkan oleh supaya bisa mengatur waktu dalam kehidupan kita. Kapan waktu makan, kapan waktu bekerja, kapan waktu istirahat dan kapan waktu ibadah. Jadi, pendidikan itu berhubungan langsung dengan penataan kembali kehidupan kita di segala bidang. Menata kehidupan sesungguhnya bagian dari proses mawas diri atau introspeksi.

Jadi, bulan Ramadan sesungguhnya bulan terbaik sebagai masa mawas diri yang intensif. Proses mawas diri melibatkan evaluasi diri ke wilayah kedalaman jiwa untuk dinyatakan kembali dalam keseharian sebagai akhlak dan perilaku mulai yang membumi. Tentunya evaluasi ini didasarkan atas pengalaman hidup sebelumnya yaitu pengalaman atas semua peristiwa dan perilaku sebelas bulan sebelumnya sebagai ladang maghfirah yang sudah disemai dan ditanami pohon benih-benih perbuatan.

Selain itu, evaluasi juga mencakup taksiran untuk kehidupan di masa depan, baik di dunia maupun di akhirat nanti. Pada bulan Ramadan sudah seharusnya bagi umat muslim agar dapat merubah segala sesuatunya menjadi lebih baik dari hari-hari sebelumnya. Dan jika kita melihat kondisi umat Islam saat ini belum mencapai hal itu. Seperti misalnya di negara kita Indonesia yang mayoritasnya beragama Islam tetapi masih belum terwujud perubahan ke arah yang lebih baik dari berbagai aspeknya, yakni perubahan ke arah Islam.

Dari aspek ekonomi belum ada perubahan atau peningkataan sama sekali bahkan pada bulan ramadan ini kondisi ekonomi rakyat Indonesia semakin memburuk dan memberatkan mereka. Dengan melonjaknya harga-harga sembako dan lain sebagainya, dari aspek pemerintahan pun sama, semakin terlihat jelas ketidak tegasaan dan kurangnya perhatian terhadap masyarakat baik dalam hal keadilan, hukum, dan proses yang ditangani pemerintah terhadap rakyatnya.

Seperti kasus banyaknya ledakan gas elpiji yang memakan banyak korban, kasus terorisme, kasus Indonesia-Malaysia dan lain sebagainya. Kemudian juga,  banyak orang-orang yang mengartikan bulan Ramadan ini sebagai momentum untuk mengadakan perubahan sesaat yaitu hanya ketika bulan Ramadan saja dan setelah selesainya bulan Ramadan mereka kembali seperti sebelum bulan Ramadan.

Jika ditilik lebih jauh, semua ini terjadi karena Islam tidak lagi dijadikan sebagai aturan hidup. Islam hanya dianggap sebagai agama ritual semata, padahal Islam adalah tata aturan hidup yang harus diterapkan dalam seluruh aspek kehidupan, baik itu ekonomi, pemerintahan, pendidikan dan aspek hidup lainnya. Saat ini, justru kebanyakan manusia malah semakin bangga menerapkan aturan hidup sekuler-kapitalisme yang justru menjadi penyebab utama keterpurukan umat manusia.

Bulan Ramadan ini adalah moment yang tepat untuk melakukan perubahan, tentu bukan perubahan sesaat, tetapi perubahan yang sebenarnya, yakni perubahan yang menyeluruh, perubahan menjadikan Islam sebagai aturan hidup. Tentu, untuk itu dibutuhkan negara yang akan menerapkannya, yakni Khilafah Islamiyah. Untuk itu pula, mari kita optimalkan dalam memperjuangkan kembali tegaknya Khilafah ini. Semoga Ramadan ini menjadi Ramadan terakhir kita hidup di bawah naungan aturan manusia. Wallahu a'lam bi ash-shawab.

*)Annisa M warga Ledeng, Bandung, Jawa Barat.

( gst / vta )

Buruan BBM-an dengan BlackBerry® Curve™ 8520, kini hanya RP. 1.990.000,-



Share


Baca juga:


Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi bagian periklanan,
telepon 021-7941177 (ext.526).

Berita Lain

Indeks Berita