detikcom
Jumat, 20/08/2010 18:24 WIB

Puasa Kunci Keberhasilan Hidup di Dunia dan Akhirat

Muhammad Nur Hayid - detikRamadan
Jakarta - Sebagaimana disabdakan Nabi Muhammad saw, bulan Ramadan adalah salah satu bulan yang secara khusus di diberikan Allah swt untuk umat Muhammad. Dalam bulan ini, semua amalan yang baik dilipatgandakan pahalanya, setan-setan dibelenggu dan pintu-pintu surga dibuka lebar-lebar.

Setiap orang beriman dilatih menjadi manusia unggul yang mampu mengontrol dirinya dan bermanfaat bagi sesama, yang dalam bahasa bahasa al-Qur'an disebut sebagai 'muttaqin'. Barang siapa yang bisa meraih tingkatan menjadi orang yang bertaqwa, 'muttaqin', maka jaminan kesuksesan hidup di dunia dan di akhirat insya Allah sudah berada di genggaman.

Allah berfirman dalam kitab sucinya, 'Wauzlifatil jannatu lilmuttaqin' yang artinya 'sungguh surga itu telah didekatkan bagi orang-orang yang bertaqwa (muttaqin). Dalam ayat lain Allah berfirman 'Wajannatun arduhassamawati wal ard, uiddat lilmuttaqin', yang artinya surga itu luasnya seperti luas langit dan bumi yang memang disediakan bagi orang-orang yang bertaqwa. Jadi, kunci dari kebahagian kita hidup di dunia dan akhirat adalah taqwa. Dan tujuan utama berpuasa adalah menjadikan seseorang sebagai muttaqin sebagaimana firmanNya, 'laallakum tattaqun'.

Apa ukuran keberhasilan di dunia bagi orang yang bertaqwa? Allah berfirman dalam al-Qur'an, 'Waman yattaqillaha yaj'al lahu makhroja, wayarzuqhu min khaitsu la yahtasib', yang artinya, barang siapa yang bertaqwa kepada Allah, maka Allah akan selalu memberikan jalan keluar atas berbagai persoalan yang dihadapi di dunia ini, dan Allah akan memberikan rezeki dari jalur yang tak disangka-sangka. Ayat ini semakin memberikan gambaran batapa gamblangnya jaminan Allah bagi orang yang bertaqwa. Semua masalahnya akan dibantu solusinya, dan semua kebutuhan rezekinya akan dipenuhi dari jalan yang dia bahkan tak terpikir bagaimana mendapatkannya.

Lalu kenapa orang-orang masih banyak yang setengah hati dalam meraih gelar 'muttaqin'? Kita masih banyak menyaksikan betapa banyak dari kita yang menjadikan ibadah itu sebagai beban. Lebih naif lagi, sebagian dari kita menjadikan ibadah sebagai pamer dan riya karena ingin mendapatkan pujian dan sanjungan dari sesama mahluk. Orang-orang yang demikian ini dijamin tidak akan mendapatkan jalan menuju muttaqin, karena salah satu syarat dari jalan menuju muttaqin adalah keihlasan dan kesungguhan dalam meniti amal dan ibadah kita.

Dalam satu riwayat dijelaskan, sahabat nabi Umar Bin Khattab pernah bertanya kepada Ubay Bin Kaab soal makna dan gambaran dari taqwa. Ubay pun menjawab pertanyaan Umar dengan sebuah perumpamaan. Dalam jawabannya itu, Ubay mengumpamakan taqwa dengan sebuah upaya apa yang harus dilakukan jika sedang berjalan di tengah jalan berduri. Umar pun menjawab tegas, seseorang tentu harus berjalan dengan hati-hati dan sungguh-sungguh. Ubay menimpali, itulah perumpamaan dari hakikat taqwa. Kita harus meraihnya dengan hati-hati dansungguh-sungguh. Tanpa itu, jangan harap kita bisa meraih taqwa yang sebenar-benarnya taqwa.

Mumpung masih ada sisa waktu 20 hari lagi dalam puasa kita di bulan Ramadan ini, mari kita jaga komitmen dan niat kita meraih muttaqin sebagai tingkatan tertinggi dalam derajat seorang mukmin. Jangan sampai kita terpengaruh dengan fenomena rutin di masyarakat jika sudah memasuki hari ke 10, semangat beribadah menjadi menurun. shaf-shaf masjid untuk shalat tarawih menjadi semakin pendek, dan tadarus kita cukup hanya beberapa lembar saja. Dan orang-orang lebih banyak mempersiapkan diri menyambut Lebaran dan hari raya ketimbang memperdalam dan menyeriusi meraih taqwa dan berkah Ramadan dengan amalan yang baik.

Oleh karena itu, mari kita manfaatkan sisa waktu yang ada ini untuk memperbanyak dzikir, ibadah, sodaqoh dan semua amalan positif yang bisa menambah kualitas keimanan dan ketaqwaan kita kepada Allah. Bagi yang belum menghatamkan al-Qur'an, mari kita kebut mengkhatamkan firman Allah sambil kita resapi maknanya. Bagi yang diberikan harta berlimpah, mari kita berbagi dengan saudara kita yang kurang beruntung. Karena dengan cara itulah, tujuan puasa untuk meningkatkan iman dan taqwa serta solidaritas sosial akan bisa kita rasakan dengan nyata.

Dan bagi siapa yang bisa melakukan amalan itu dengan dilandasi rasa iman yang tinggi untuk meraih ridho Allah dan penuh evaluasi, maka baginya jaminan terbebasnya dosa-dosa yang telah kita lakukan di masa lalu. Dan barang siapa yang sudah terbebas dari dosa itu, maka dia akan menjadi seperti bayi yang baru lahir, bagai kertas putih yang belum tercoret, dan siapa yang meninggal dalam keadaan itu, maka surgalah jaminan yang telah disiapkan oleh Allah. Itulah bukti kesuksesan kehidupan kita di akhirat sebagai balasan untuk orang yang bertaqwa yang merupakan tujuan utama berpuasa. 'Man shoma romadona imanan wahtisaban, ghufiro lahu ma taqoddama min danbih' Wallahu A'lam.

*) Muhammad Nur Hayid adalah pengajar di Pondok Pesantren al-Anwar, Pacitan, Jawa Timur.

( yid / vta )


Komentar (0 Komentar)

     atau daftar untuk mengirim komentar
    Tampilkan Komentar di:        

    Twitter Recommendation
    Redaksi: ramdhan[at]detik.com
    Informasi pemasangan iklan
    Hubungi sales[at]detik.com

    berita
    terbaru
    Kirim Pertanyaan + Indeks
    MustRead close