Selasa, 17/08/2010 13:25 WIB

Kisah Porter Stasiun Gambir

Sudarso Memilih Kerja Setengah Hari demi Tarawih dan Keluarga

Haryanto - detikRamadan
Sudarso Memilih Kerja Setengah Hari demi Tarawih dan Keluarga
Jakarta - Laki-laki paruh baya itu menunggu kereta api dari luar kota yang tiba di Stasiun Gambir. Ia berharap ada penumpang yang membutuhkan jasanya sebagai tukang porter (jasa angkat barang).

Salat dzuhur telah Sudarso (49) tunaikan di Mushala Stasiun Gambir. Setelah mengenakan sepatu casual warna putih, kembali ia menunggu penumpang yang berharap menggunakan jasa dan tenaganya sebagai kuli angkut barang.

"Saya dari kecil di sini, beres SD saya nggak lanjutin sekolah, sejak tahun 1974," tutur Sudarso kepada wartawan, saat ditemui di Stasiun Gambir, Senin (17/8/2010).

Alasannya, orangtua Sudarso yang merupakan pensiunan penjaga pintu perlintasan
kereta api, tidak memiliki biaya untuk melanjutkan jenjang pendidikan bapak 3 putri ini.

Dalam menjalani rutinitasnya selama bulan Ramadan ini, Sudarso lebih memilih bekerja setengah hari, dari pukul 08.00 WIB hingga pukul 14.00 WIB, ketimbang bertahan 24 jam di stasiun. Hal itu berbeda dengan rekan-rekan seprofesinya yang memilih bertahan di stasiun untuk mencari penumpang yang membutuhkan jasa porter.

"Saya memelihara tarawih saya di rumah dengan keluarga," tutur Sudarso.

Ia juga menuturkan, selama Ramadan ini dirinya dipercaya sebagai imam di tiga mushala dan dua masjid di kediamannya, sekitar Kampung Benda Barat RT 3 RW 6, Desa Cipayung Kecamatan Cipayung, Depok.

Dari kegiatan tersebut, ia mendapatkan kontribusi 10 liter beras dari panitia masjid dan mushala untuk dibawa pulang. "Tapi bukan gara-gara itu saya ninggalin kerjaan dan memilih jadi imam, saya senang diberi kepercayaan sama masyarakat. Kalau dikasih ya bersyukur, enggak terlalu ngarepin," tuturnya.

Ia menuturkan, selama bekerja sebagai tukang angkut barang penumpang kereta api, dirinya tak memiliki kejelasan pendapatan. Suatu kali dia pernah membawa pulang Rp 50 ribu. Namun di saat yang lain, dia pernah hanya mendapatkan Rp 5 ribu, dan bahkan pernah tidak mendapatkan upah sama sekali.

"Tapi untungnya istri tidak rewel, dia bilang belum waktunya saja dapat duit, mungkin besoknya," sambung Sudarso.

Menyiasati itu, sang istri menambal kecukupan dapur dengan berjualan gorengan di sekitar rumah. "Alhamdullilah cukup dari jualan gorengan," katanya.

Meski tidak jelas dari segi penghasilan, ia tidak pernah menyesali untuk menjadi kuli angkut barang. Pernah dirinya menjadi buruh pabrik paku di Bekasi tahun 1979 lalu, namun ketatnya waktu kerja membuatnya kembali menjadi porter.

"Waktu itu takbir, saya sempat nangis karena jam segitu masih di pabrik, kalau jadi porter enggak terlalu ketat, jadi bisa ibadah dengan keluarga," lanjut Sudarso.

"Kayak bulan puasa sekarang, saya bisa kumpul dengan keluarga," imbuhnya.

Kereta Cirebon Ekspres melaju tepat pukul 15.00 WIB dari Stasiun Gambir. Sebelumnya tidak ada satu pun penumpang yang menggunakan jasa angkut sang porter. Sudarso pun berkemas pulang menunggu kereta ekonomi yang membawanya pulang untuk berkumpul bersama keluarga.

( gst / vit )

Buruan BBM-an dengan BlackBerry® Curve™ 8520, kini hanya RP. 1.990.000,-



Share


Baca juga:


Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi bagian periklanan,
telepon 021-7941177 (ext.526).

Berita Lain

Indeks Berita