detikcom
Rabu, 11/08/2010 10:42 WIB

Larangan Bagi yang Sedang Menstruasi

Alifmagz - detikRamadan
Halaman 1 dari 3
Jakarta - Tanya:
Selama ini saya sering mendengar larangan-larangan, antara lain, seperti larangan bagi perempuan yang sedang datang bulan (menstruasi) untuk membuang rambut yang rontok dan memotong kuku, serta larangan bagi lelaki untuk memakai emas dan logam lainnya dan menggunakan pakaian yang memakai bahan sutra.

Setelah saya tanyakan dasar hukumnya saya tidak memperoleh jawaban yang memuaskan. Saya juga telah berusaha mencari jawabannya lewat al-Qur’an, namun sampai sekarang belum saya temukan. Mohon penjelasan dan terimakasih.

(Susan Yuniarso - Kebun Pala, Jakarta Timur)

Jawab:

Dalam buku al-Fiqh 'Ala al-Madzahib al-Arba'ah (Fiqih Menurut Keempat Mazhab) dikemukakan: "Yang haram bagi seorang yang sedang dalam keadaan junub (termasuk menstruasi) untuk dia kerjakan adalah amalan-amalan keagamaan yang bersyarat dengan adanya wudhu, seperti shalat sunnah atau wajib."

Semua kita tahu bahwa tidak disyaratkan adanya wudhu untuk memotong rambut atau menggunting kuku. Dan atas dasar penjelasan di atas, kita dapat berkata bahwa tidak ada larangan (dalam arti haram) untuk membuang rambut yang rontok dan memotong kuku, seperti yang Anda tanyakan itu.

Boleh jadi pandangan ini timbul dari adanya kewajiban untuk memandikan seluruh anggota tubuh. Rambut yang rontok atau kuku yang dipotong dan terbuang, maka ia tidak termandikan lagi, dan karena itu mereka melarangnya. Saya pun --seperti Anda-- tidak menemukan alasan keagamaan untuk pandangan ini, baik dari al- Qur’an maupun hadits Nabi Saw. Boleh jadi yang melarangnya menduga bahwa badan manusia menjadi najis saat dia dalam keadaan junub.

Dugaan ini keliru. Nabi Saw tidak mewajibkan bagi yang junub termasuk yang sedang datang bulan (menstruasi) untuk bersegera mandi. Ia baru harus mandi saat akan shalat, atau membaca al-Qur’an. Bahkan sebuah riwayat menyatakan bahwa Nabi Saw pernah berdiri untuk shalat berjamaah, tiba-tiba beliau teringat bahwa beliau belum mandi dan segera pergi mandi kemudian melaksanakan shalat. Demikian diriwayatkan oleh keenam perawi hadits utama (kecuali at-Tirmidzi) melalui sahabat Nabi, Abu Hurairah.

Boleh jadi juga pandangan tersebut lahir dari interpretasi hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Abu Dawud melalui ‘Ali bin Abi Thalib yang menyatakan, "Barang siapa yang mengabaikan satu bagian dari tempat tumbuhnya rambut saat mandi junub sehingga tidak terkena air, maka Allah akan memperlakukannya begini dan begini di neraka."Next

Halaman 1 2 3


( gst / nvt )



Twitter Recommendation
Redaksi: ramdhan[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi sales[at]detik.com

berita
terbaru
Kirim Pertanyaan + Indeks