Kamis, 03/09/2009 20:07 WIB
Pesan dari Pulau Arang
Sunaryo Adhiatmoko - detikRamadan
Empat hari sebelumnya, saya juga dihubungi Ustad Arifudin Anwar, melalui ponsel. Ia, seorang dai yang membina komunitas muslim di Desa Adonara, Kelubagolit, Flores Timur. Di timur Indonesia itu, Ia mengelola pendidikan gratis, jenjang SMP dan SMA. Murid-muridnya, datang dari Maumere, Larantuka, Lembata, dan Alor. Mereka dari keluarga tidak mampu. Karena jarak kampung halaman mereka yang jauh, Arifudin membangunkan asrama sederhana dari dinding bambu dan atap rumbia.
"Masih ingat Pulau Arang mas?" tanyanya siang itu. "Lagi kering kerontang di sana, mungkin dari Al-Azhar ada yang bisa dikirim," terang Arifudin.
Saya punya kenangan kuat tentang Pulau Arang. Saat itu awal Juni 2006. Cuaca terik menyengat. Saya menjejakkan kaki di pulau Arang yang gersang. Setelah menyeberang delapan jam, dengan perahu nelayan dari pelabuhan Larantuka. Sebuah pulau berpenghuni tak lebih dari 50 KK yang tidak tertulis di dalam peta Indonesia. Letaknya antara Pulau Adonara dengan Alor.
Daratan mungil di timur Indonesia itu membawa ke peradaban era kolonial, mungkin. Karena saya merasa muskil menyaksikan sebuah komunitas masyarakat hidup terasing dari peradaban abad 21. Tapi ini benar-benar nyata. Anak-anak di pulau itu, jauh dari akses pendidikan. Sebagian besar bahkan tidak sekolah.
Di sebuah rumah beratap rumbia, seorang ibu mempersilakan saya bertandang ke rumahnya. Seperti rumah-rumah yang lainnya, tidak ada perabot rumah seperti lemari, meja, dan kursi. Hanya balai bambu tempat untuk menjamu tamu dan ruang untuk bercengkerama.
Ada pemandangan menarik di dalam ruang sederhana, berlantai tanah itu. Sebuah foto usang mantan Presiden Soeharto masih terpampang di dinding bambu. Kelihatannya sudah dipajang sejak lama. Saya usil bertanya, "Ibu, siapa presiden kita sekarang."
"Suharto," jawabnya ringan. Saya nyengir pahit.
Di sebelah rumah yang lain. Saya melihat seorang ibu sedang menumbuk jagung, di bawah pohon asem. Jagung itu digoreng di atas tungku tanpa minyak. Kemudian digeprak di atas batu. Mirip membuat emping melinjo. Setelah jagung-jagung itu gepeng, ditaruhnya di atas piring. Namanya jagung titi. Salah satu makanan pokok masyarakat di pulau itu.
Pulau Arang yang kecil, memang tak memungkinkan jadi lahan pertanian. Tumbuhan yang mampu bertahan hanya jagung. Itu pun hanya satu kali setahun. Musim paceklik, mencekik tiap kemarau merajam. Antara Juni hingga September. Jika arus selat Flores tak ganas dan ombak sedang ramah, mereka menyelingi kebutuhan hidup dengan mencari ikan. Tapi sejak BBM naik dulu, kabarnya mereka mengganti mesin perahunya dengan layar.
Beberapa jam kemudian, saya hubungi kedua manusia hebat itu. "Insya Allah ustad, lusa dari Al-Azhar Peduli Ummat akan berbagi takjil untuk saudara-saudara di Indonesia Timur."
*) Sunaryo Adhiatmoko (Al Azhar Peduli Ummat)
( asy / asy )
Buruan BBM-an dengan BlackBerry® Curve™ 8520, kini hanya RP. 1.990.000,-
Baca juga:
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi bagian periklanan,
telepon 021-7941177 (ext.526).
Informasi pemasangan iklan
hubungi bagian periklanan,
telepon 021-7941177 (ext.526).
Berita Lain
- Selasa, 01/09/2009 12:46 WIB
Puasa Pemecah Batu
- Senin, 31/08/2009 13:00 WIB
Guru Kehidupan dari Nek Inggih
- Sabtu, 29/08/2009 09:32 WIB
Legok, Sudut yang Terlupakan
- Jumat, 28/08/2009 10:23 WIB
Terkucil di Tumpak Ndolo

Sending your message