Sabtu, 29/08/2009 09:32 WIB
Legok, Sudut yang Terlupakan
Sunaryo Adhiatmoko - detikRamadan
Musim kemarau begini, air bersih sulit didapat. Bagi yang mampu, menyedot air dari sungai dengan mesin. Air di sungai tak mengalir, seakan beku. Di sungai keruh ini, seluruh aktivitas hidup tumpah. Dari buang kotoran, pengairan pertanian, hingga mandi dan mencuci. Sebaliknya, tatkala musim hujan, seluruh kawasan berubah jadi lautan. Terendam banjir, hingga berminggu-minggu.
Legok, desa yang mudah dilihat dari udara. Tiap jam, pesawat menderu, melintasi langit di desa itu, saat lepas landas dari Bandara Sukarno – Hatta. Dari atas udara, lanskap tampak coklat muda, dikitari aliran sungai yang warnanya keruh. Jalan utama desa yang melintasi sepanjang sungai Legok, juga hancur total. Sejak empat tahun lalu, belum ada perbaikan sama sekali.
Di kampung Kendayakan, sebuah masjid berdiri sederhana. Tempat wudunya, berupa kolam yang dibuat rendah di bawah tanah. Warna airnya, hijau pekat seperti padat oleh lumut.
"Biasa saja ini, bersih, ayo coba," paksa Sobandi, sembari menunjukkan cara berwudu dengan air itu.
"Kalau orang kota mah, jijik ya mas," Sobandi menyimpulkan.
"Dua bulan sekali airnya diganti, diambil dari sana," ia menunjuk persawahan yang jaraknya sekitar 500 meter, dari masjid At Taqwa. Pengambilan air, disedot dengan pompa mesin. Tapi, air pengganti, warnanya juga keruh. Pernah ada bantuan sumur bor di desa, tapi air yang keluar juga tidak dapat digunakan.
"Dari saya kecil dulu, air bersih selalu jadi masalah yang tak teratasi," kata ayah delapan anak itu.
Sobandi, guru ngaji biasa yang membuka majelis di emperan rumahnya. Anak-anak di kampung, mengaji dari lepas Ashar hingga jelang Isya. Usai itu, ganti orang tua yang ngaji kitab di majelis Sobandi.
"Cuma ini yang bisa saya perbuat untuk masyarakat," Sobandi merendah. Ia mengaku tak punya bekal ilmu agama yang cukup. Waktu muda, pernah mondok di pesantren kampung, daerah Kresek. Itu pun, hanya dua tahun. Tapi, ia berusaha mengajarkan apa yang didapat dari pondok pada masyarakat.
"Di sini tak ada yang mau ngajari ngaji, semua sibuk cari ekonomi," terangnya.
Legok, memang daerah minus. Meski lokasinya hanya dua jam dari pusat Ibukota Jakarta, melalui tol Balaraja. Mayoritas penduduknya bertani, tapi tidak di tanah sendiri. Sawah dan ladang yang ada di Legok, kebanyakan milik orang Jakarta. Warga setempat, kebagian mengolah dengan cara bagi hasil. Sampingan lain, membuat kerajinan dari daun pandan.
Kehidupan yang sulit, juga tampak dari tempat tinggal mereka. Banyak rumah yang masih berdinding gedek. Tembok pun, di dalamnya terlihat pengap dan sumpek. Seakan mencerminkan realitas beban hidup penghuninya.
"Meski susah, semua pada puasa lo mas," ungkap Sobandi, Selasa lalu, sambil mengajak keliling kampung. Ia titip pesan, agar daerahnya diperhatikan. Siapa tahu, Ramadan ini jadi awal orang peduli.
"Ajak orang kota kemari mas, biar bisa bantu kita ini. Masak mereka cuma melewati kita dari udara saja," Sobandi mendongak ke langit. Detik itu, bersamaan kelebat pesawat yang meninggalkan bising suara, di Legok.
*) Sunaryo Adhiatmoko, Al Azhar Peduli Ummat
( asy / asy )
Buruan BBM-an dengan BlackBerry® Curve™ 8520, kini hanya RP. 1.990.000,-
Baca juga:
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi bagian periklanan,
telepon 021-7941177 (ext.526).
Informasi pemasangan iklan
hubungi bagian periklanan,
telepon 021-7941177 (ext.526).
Berita Lain
- Kamis, 03/09/2009 20:07 WIB
Pesan dari Pulau Arang
- Selasa, 01/09/2009 12:46 WIB
Puasa Pemecah Batu
- Senin, 31/08/2009 13:00 WIB
Guru Kehidupan dari Nek Inggih
- Jumat, 28/08/2009 10:23 WIB
Terkucil di Tumpak Ndolo

Sending your message