Jumat, 28/08/2009 10:23 WIB
Terkucil di Tumpak Ndolo
Sunaryo Adhiatmoko - detikRamadan
Terdapat lebih dari 50 KK yang menempati lahan milik perhutani itu. Mulanya, mereka membangun tempat tinggal sederhana, dari bambu yang diatapi terpal. Kini, perlahan-lahan berubah. Meski masih berdinding gedek, atapnya diganti genteng.
"Lumayan, kalau hujan tidak bocor," terang Misdi, ketua RT Dusun Banaran, Desa Depok yang turut jadi pengungsi.
Rumah-rumah itu, berdiri ala kadarnya. Sebagian rumah, tiangnya doyong dan dindingnya dimakan rayap. Lantai beralas tanah, tidak rata. Sekilas tak kelihatan, jika Tumpak Ndolo permukiman penduduk.
Di ujung kampung, surau Nur Rohman berdiri, dengan posisi nyaris ambruk. Rumah ibadah sederhana itu, dibuat bareng pembangunan pengungsian. Hingga sekarang, kondisinya tak berubah. Malah makin terkikis lapuk, oleh cuaca.
Tapi, nuansa perih itu, bukan bentuk matinya aktivitas di Nur Rohman.
"Anak-anak semua ngaji di sini tiap sore. Semua ada sekitar 70," ungkap Misdi.
Warga pengungsi Tumpak Ndolo, menjadikan surau itu sebagai Taman Pendidikan Alquran (TPA). Meski belajar disuguhkan sekadarnya, tapi Nur Rohman satu-satunya pengharapan orang tua, membekali agama anak-anaknya. Setelah seluruh harta benda dan tempat tinggalnya lenyap, anak jadi harta yang tak ternilai harganya.
"Saya bukan guru, hanya membagi ilmu saja. Kalau guru kan ilmunya tinggi," kata Paiman merendah. Ia imam sholat dan guru ngaji di surau itu.
Akses sekolah di Tumpak Ndolo juga jauh. Anak-anak, jalan kaki hingga 8 km untuk menuju SD terdekat. Tapi, anak-anak Tumpak Ndolo bernyali tangguh. Meski sedang puasa Ramadan, mereka tetap kuat menapaki jalanan turun dan menanjak. Tubuh mereka, sampai basah mandi keringat.
"Puasa ya pul," aku Widyawati, murid kelas lima SD yang merampungkan puasa sehari penuh.
Sore itu, bersama teman-temannya, ia menunggu bedug Magrib di Surau Nur Rohman. Mereka bercanda di serambi surau. Karena, Ramadan ini TPA diliburkan sementara. Setelah adzan Magrib menggema, anak-anak berhamburan pulang, ke rumah masing-masing. Suasana surau jadi sunyi. Tak ada suara gelas beradu, karena anak-anak berebut takjil. Juga tak tercium aroma kue, penghias nafsu saat buka puasa tiba.
Anak-anak di Tumpak Ndolo, seperti Widyawati, tidak mengawali buka dengan makanan pembuka. Biasanya, setelah minum air putih, langsung makan berat. Menunya, nasi tiwul campur beras sedikit, sayur daun singkong, dan teri yang digoreng dengan tepung singkong (gaplek). Semua dari satu bahan pokok, singkong.
Meski berada di pucuk gunung, dengan taraf ekonomi rendah, tak pernah ada yang berbagi peduli di Tumpak Ndolo. Walau sekadar takjil. Apalagi buka puasa bersama, itu sebuah kemewahan. Bahkan, untuk sekerat daging pun, mereka belum tentu makan sekali dalam satu tahun.
"Pernah sekali-kalinya makan daging, waktu ada kurban dari Al-Azhar Peduli," kata Misdi.
Tumpak Ndolo, tempat permukiman pengungsi yang terabai hingga kini. Dataran tinggi yang sulit air itu, saksi bisu korban banjir yang tak menentu nasibnya, hingga kini. Ya Ramadan, tebarkan keberkahanmu hingga puncak Tumpak Ndolo.
*) Sunaryo Adhiatmoko, Al Azhar Peduli Ummat
( asy / asy )
Buruan BBM-an dengan BlackBerry® Curve™ 8520, kini hanya RP. 1.990.000,-
Baca juga:
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi bagian periklanan,
telepon 021-7941177 (ext.526).
Informasi pemasangan iklan
hubungi bagian periklanan,
telepon 021-7941177 (ext.526).
Berita Lain
- Kamis, 03/09/2009 20:07 WIB
Pesan dari Pulau Arang
- Selasa, 01/09/2009 12:46 WIB
Puasa Pemecah Batu
- Senin, 31/08/2009 13:00 WIB
Guru Kehidupan dari Nek Inggih
- Sabtu, 29/08/2009 09:32 WIB
Legok, Sudut yang Terlupakan

Sending your message