Senin, 24/08/2009 09:15 WIB

Ruh Kemandirian

Kusnandar - detikRamadan
Ruh Kemandirian
Kusnandar
Jakarta - “Keluar, bekerjalah. Carilah rezeki di muka bumi. Allah tidak akan menurunkan hujan emas dengan doamu itu," kira-kira demikian hardik Umar bin Khattab kepada dua orang yang menghabiskan waktu di masjid dengan dalih berdoa untuk mendapat rezeki.

Kisah ini jauh lebih besar dari sekadar sebuah peristiwa kecil dalam tarikh Islam. Pertama, Umar mengoreksi pemahaman fatalisme (jabariyah) yang beranggapan bahwa manusia tidak perlu berikhtiar karena manusia hanyalah wayang yang dimainkan dalang. Umar meluruskan, bahwa rezeki atau hasil memang kepastian, tapi berusaha memburu rezeki juga suatu kewajiban.

Berdoa atau berzikir, suatu kewajiban. Tapi ia tidak menggugurkan kewajiban untuk berusaha mencari nafkah. Karena itulah, dikatakan bahwa ahli ibadah di masjid tidak lebih baik dibanding tetangga masjid yang memberinya makan.

Umar juga mengoreksi paham sekularisme, yang beranggapan bahwa ibadah hanya ada di masjid. Tidak. Ibadah khusus memang bisa di masjid, tapi dalam arti luas juga bisa di kantor, pasar, kios, pinggir jalan, di mana saja.

Tukang parkir, penjaga makam, pembersih got, sampai bos eksekutif, mereka sedang beribadah ketika mengerjakan pekerjaannya dengan niat karena Allah dan untuk mencari nafkah halal bagi keluarganya.

Relawan Front Pembela Islam (FPI) di Aceh yang mengevakuasi mayat dan mengumpulkan harta benda yang melekat di jasad kemudian menyerahkan pada ahli warisnya, mereka juga sedang beribadah.

Bahkan ungkapan zikir yang dilakukan oleh orang yang sedang bekerja sangat berbeda artinya bila dibandingkan zikirnya orang yang sedang berdiam diri. Ketika seseorang mendapat musibah dalam bekerja kemudian dia berucap 'inna lillahi wa inna ilaihi raji'un' jauh lebih bermakna dibandingkan bila diucapkan oleh orang berdiam diri.

Ketika seseorang dapat menyelesaikan suatu pekerjaan berat kemudian dia berucap 'alhamdulillahi rabbil 'alamin', maka penghayatannya jauh lebih mendalam daripada ucapan bibir tanpa aksi.

Itu sebabnya para pemimpin Islam tidak mengenal gengsi untuk bekerja mencari nafkah. Sebutlah misalnya Imam Abu Hanifah.

Beliau seorang ulama besar yang sangat dihormati. Ilmunya luas dan muridnya banyak. Namun di tengah kesibukannya belajar dan mengajar, ia masih menyempatkan diri untuk bekerja sehingga tidak jelas lagi apakah ia seorang pedagang yang ulama atau ulama yang pedagang. Baginya, berusaha itu suatu keharusan, sedangkan berjuang, belajar dan mengajarkan ilmu itu juga kewajiban.

Suatu kali Sang Imam dipergoki oleh seorang muridnya sedang berdagang. Orang tadi heran campur iba, kenapa ulama besar sekaliber Imam Hanafi masih juga bekerja.

Apa jawab Imam terhadap keheranannya itu?

“Bekerja bukanlah sesuatu yang hina, tapi mulia di sisi Allah dan Rasul-Nya. Bukankah nabi-nabi Allah adalah para pekerja? Sebagian menjadi penggembala, petani, tukang pande besi, juga pedagang?"

Tokoh dunia seperti Bill Gates, Warren Buffet, dan Charles Helu, adalah contoh pekerja keras sekaligus dermawan kelas berat. Misalnya Buffet, orang terkaya nomor dua di dunia tahun 2006 dengan kekayaan $ 42 miliar, menyumbangkan 80 persen hartanya untuk kepentingan sosial.

Kegiatan sosial itu pun bermakna kerja buat mereka. Joe Vitale, penulis spiritual marketing, sampai pada kesimpulan bahwa semakin kita rela dan banyak bersedekah, semakin banyak pula yang kita dapatkan. "To give in order to get" menurut Vitale, adalah suatu hukum universal, seperti terangkum dalam buku The Greatest Money-Making Secret in History!

Jadi, mandirilah agar bisa memberi manfaat kepada sebanyak-banyaknya manusia.

*) Kusnandar adalah Business Director Dompet Dhuafa
( nwk / nwk )

Buruan BBM-an dengan BlackBerry® Curve™ 8520, kini hanya RP. 1.990.000,-



Share

Baca juga:


Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi bagian periklanan,
telepon 021-7941177 (ext.526).

Berita Lain

Indeks Berita