detikcom
Senin, 17/08/2009 07:05 WIB

Ancaman Kemiskinan

Sunaryo Adhiatmoko - detikRamadan
Halaman 1 dari 2
Jakarta - Dalam riwayat Bukhari Muslim, Rasulullah SAW berpesan, "Kemiskinan, kebodohan, dan penyakit, merupakan musuh Islam. Ketiganya dapat menggoyah sendi kehidupan, menghancurkan ketentraman, menghalangi ukhuwah, serta meruntuhkan kemuliaan dan kejayaan bangsa."

Wasiat itu, maknanya dalam. Kemiskinan, tak hanya mengancam individual, tapi akan melibas kehidupan masyarakat. Baik memporak-porandakan segi akidah-iman, akhlak-moral, maupun merusak cara bersikap dan berpikir.

Islam sangat menentang kemiskinan. Namun Islam, menuntun umatnya agar bisa merasai makna miskin. Puasa Ramadan misalnya, mengingatkan agar tubuh ini bisa merasai 'nikmatnya' lapar. Jika makan sehari cukup dua kali, mengapa mulut ini tak pernah bisa berhenti mengunyah? Bila kita pantas berbusana yang terjangkau, mengapa harus memaksa mengenakan yang mewah? Artinya kalau Islam meneladani kesederhanaan, mengapa justru kita terus berlebihan?

Dalam keteladanan beragama kita, Khalifah Umar bin Abdul Azis adalah cermin hebat, bagaimana memperlakukan sebuah kekayaan dan kekuasaan. Menjadi pemimpin pada umur 35, Umar bin Abdul Azis, pemimpin muda yang yang mampu melalui godaan duniawi. Ia mengubah cara hidup seorang khalifah sebelumnya yang royal pada duniawi. Umar mengikat diri untuk tidak silau pada harta, singgasana, pakaian, dan minyak wangi. Sikap ini menurun hingga keluarga intinya.

Hidup keluarga Umar, sederhana. Anaknya menutup mulut, karena hanya makan bawang. Perhiasan istrinya diserahkan ke Baitul Mal. Pakaiannya dijemur sembari dikenakan, karena baju satunya robek. Dia tidak perlu pengawal, tak butuh dihormati dengan berdiri, dan selalu berwasiat pada para gubernur sebelum pergi bertugas. Padahal ia manusia yang kaya raya dalam harta.

Tuntunan agar bisa merasakan lapar dan kesederhanaan, ternyata menjadi kata kunci. Dengan lapar atau kekurangan, kita dipaksa menghayati kondisi serba sulit. Dalam posisi begitu, apapun yang diperbuat punya konsekuensi panjang. Seorang anggota dewan misalnya, akan malu untuk menerima cinderamata cincin emas senilai Rp 5 miliar. Sementara rakyatnya masih banyak yang kelaparan.

Lihatlah, kuli bangunan, dari pagi hingga sore, ia peras peluh hanya untuk beberapa lembar ribuan. Jika sakit saja, habislah sumber nafkahnya hari itu. Jasa rentenir diterima, maka tamat riwayatnya. Inilah dampak kemiskinan, lingkaran setan yang terus membelit. Next

Halaman 1 2


( asy / asy )



Twitter Recommendation
Redaksi: ramdhan[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi sales[at]detik.com

berita
terbaru
Kirim Pertanyaan + Indeks